Saturday, November 29, 2025

Mengapa Orang Indonesia Menyukai Deforestasi?

Ilustrasi: Pixabay

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata deforestasi bermakna penebangan hutan. Maksudnya tentu penebangan pohon-pohon di hutan sebagai bagian dari komersialisasi kayu dalam skala besar. Dan, deforestasi Indonesia termasuk yang terparah di dunia. Akibatnya kerusakan ekosistem sudah terjadi di hadapan kita. Padahal, hal ini sebenarnya memicu bencana ekologis yang sangat mengerikan dan merugikan. Banjir bandang dan tanah longsor adalah wujud nyatanya. Dengan kata lain, alam yang rusak tidak bisa lagi menampung curah hujan dengan baik. 

Pertanyaannya, mengapa orang Indonesia masih menyukai deforestasi? 

Orang Indonesia dalam hal ini tentunya dalam jumlah tertentu saja. Sebutlah 100 orang, misalnya. Atau bisa jadi lebih. Nah, 100 orang Indonesia inilah yang menyukai atau memiliki kegemaran melakukan deforestasi. Sebuah kegemaran yang membahayakan banyak orang. 

Jika ditanya mengapa kegemaran seperti itu ada pada mereka? Maka, jawabannya karena orang-orang tersebut diuntungkan. Ya, itulah motif utama terjadinya deforestasi. Kayu-kayu yang mereka tebang akan dijual dan menghasilkan uang. Semakin banyak kayu yang ditebang dan dijual, akan semakin besar rupiah yang didapatkan. 

Alhasil, ekosistem rusak parah. Bencana pun terjadi dan mereka yang melakukan deforestasi tak bertanggung-jawab. Mereka terus saja menyalahkan hujan. Padahal, hujan turun untuk kebaikan alam dan isinya, termasuk manusia di dalamnya. 


Bantuan Belum Datang, Penjarahan pun Terjadi

 

Ilustrasi: Pixabay

Sebenarnya Indonesia memiliki helikopter yang dapat menjangkau wilayah terdampak banjir untuk menyalurkan bantuan. Indonesia juga memiliki banyak uang untuk membeli sembako di minimarket dan membagikannya kepada korban banjir. 

Tapi, yang terjadi bantuan tak kunjung datang dan terpaksa masyarakat menjarah minimarket. Dalam hal ini negara telat hadir di tengah-tengah kondisi yang sangat memperihatinkan. Banjir bukanlah hal kecil, melainkan bencana besar yang sangat merugikan. Perlu penanganan optimal. 

Negara harus secara maksimal terjun langsung membantu masyarakat yang terdampak bencana ini. Terlambat sedikit saja bisa fatal. Ya, korban banjir pasti akan mengalami perut lapar, tubuh lemah, daya tahan tubuh turun drastis, dan rawan terhadap berbagai penyakit. 

Itulah sebabnya, bantuan wajib disalurkan sesegera mungkin. Gunakanlah helikopter, misalnya. Atau, negara bisa membeli sembako di minimarket terdekat dari lokasi banjir untuk dibagikan kepada para korban. Namun, yang terjadi di lapangan adalah sebaliknya. Banjir besar di Sumatera belum dapat ditangani secara maksimal. Penjarahan pun sudah terjadi di minimarket akibat keterlambatan penyaluran bantuan di sana. 

Ini sungguh memprihatinkan. Ketika negara mampu membagikan makanan gratis kepada siswa, tapi tidak kepada korban banjir. Kita semua berharap secepatnya bantuan sampai di tangan mereka. Semoga! 

Friday, November 28, 2025

Menyantuni Para Sastrawan

Ilustrasi: Pixabay

Kata menyantuni selalu saja merujuk pada orang-orang dengan kekurangan atau bahkan ketiadaan materi, baik berupa uang, maupun harta benda. Istilah gaulnya bokek. Benar-benar butuh bantuan. Ya, untuk hidup sehari-hari. 

Lalu apakah sastrawan demikian? Miskin? Bokek? 

Kata sastrawan dalam judul di atas tentu saja dikhususkan pada para sastrawan yang tanpa pekerjaan di luar sastra. Aktivitas yang digeluti hanya sastra dan seputar sastra. Tak ada yang selain sastra. Bisa dikatakan merupakan sastrawan murni. Suatu waktu menulis karya sastra, pada waktu yang lain menjadi juri lomba sastra, pembengkel teater, narasumber dalam pelatihan menulis sastra, dan lainnya. Dari sanalah para sastrawan murni mendapatkan penghasilan. 

Dan, seperti yang kita ketahui, aktivitas-aktivitas di atas tidaklah rutin dilakukan setiap hari. Hal inilah yang menyebabkan pendapatan sastrawan murni seperti itu juga tidak jelas. Bisa jadi enam kali dalam setahun, tiga kali, satu kali, atau bahkan sama sekali tidak ada aktivitas sama sekali (mengalami strok, misalnya). 

Jika sudah demikian, yang bersangkutan pasti perlu bantuan, yakni berupa morel dan meteriel. Secara morel agar mereka tetap bersemangat dan secara materiel guna kelangsungan hidup yang bahagia. 

Pertayaannya, siapa yang menyantuni para sastrawan murni, khususnya yang sudah berusia senja? 

Pertanyaan di atas memunculkan jawaban yang beragam. Bisa pemerintah, pengusaha sukses, keluarga, atau bisa juga sesama sastrawan yang memiliki pekerjaan di luar sastra dan mapan dalam hal ekonomi. 

Sebenarnya siapa pun boleh menyantuni sastrawan selama uangnya halal dan diberikan dengan hati yang ikhlas. Nah, pertanyaan selanjutnya, sudahkah hal itu dilakukan? Kalau ditanya seperti ini, jawabannya sudah, tapi belum maksimal. Perlu adanya pengelolaan secara khusus dengan orang-orang yang berkompeten dan dapat dipercaya. 

Kalau perlu dikelola dalam sebuah wadah yang permanen. Sebutlah lembaga bantuan sastrawan independen. Harapan kita bersama itu dapat terwujud dengan baik sehingga para sastrawan murni yang sedang tidak baik-baik saja dalam hal ekonomi bisa menikmati hidup layak. 



Wednesday, November 26, 2025

Doa Koruptor Karya Abdul Rahim Hasibuan

Ilustrasi: Pixabay

       Tuhan, tujuh bulan di bilik penjara, yang jauh lebih sempit, dan lebih jelek dari toilet rumah mewahku dulu itu, aku benar-benar sangat menderita. Padahal masa hukumanku masih tujuh tahun lagi, atas korupsi tujuh milyar rupiah. Jauh lebih berat dari hukuman Gayus Tambunan, yang diduga koruptor di ratusan kasus dan merampok duit negara ratusan milyar rupiah.
       Istri pertamaku yang dulu kumanjakan dengan shopping barang-barang mewah di berbagai plaza minta cerai. Sedangkan istri keduaku yang dulu kumanjakan dengan berbagai wisata ke manca negara, sudah duluan diwarisi orang.
       Selusin gendak yang kudapatkan di berbagai: bar, diskotik, panti pijat, hotel-hotel dan rumah-rumah karaoke, termasuk teman-temanku ke dunia itu, tak satu pun yang membesukku. Malah sobat kentalku yang dulu sering kulupakan dan kulecehkan, kini sering membesukku, bahkan ikut memelihara putra-putriku.
       Hari ini ia memberi kabar:
       Putraku yang sejak kelas satu SMA sudah sering gonta-ganti mobil, dan sering dipanggil bos oleh teman-temannya barusan ditangkap Polisi gara-gara terlibat penyalahgunaan narkoba. Sedangkan putriku yang cantik dan tinggi semampai itu, astagfirullah sudah dua bulan ini jadi pelacur kelas tinggi, lantaran tak sudi hidup miskin.
       Ya, Tuhan, mendengar semua ini spontan nafsu makanku hilang. Nasi dengan lauk pauk, tumis kangkung dengan tumis teri yang minggu ini sudah mulai kuakrabi itu, terasa bagai batu. Aku tersedak-sedak, kala teringat: jenis makanan ini, dulu cuma makanan anjing dan kucingku. Telinga dan hatiku terasa ingin pecah ketika teringat sebagian besar teman-teman seblok di sel penjara mencaci makiku dengan kalimat: koruptor, koruptor itu binatang paling buas dan paling menjijikkan. Makanannya darah dan keringat rakyat.
       "Ingatlah Tuhan bertaubatlah, alhamdulillah jika kau mau tekun berguru pada Tuhan. Karena Tuhan adalah mahagurunya para mahaguru sedunia. Ia ultra Maha dalam segala-galanya," bisik lirih dan lembut sahabatku itu tapi itu sangat mengguncang jantungku. Karena aku jadi teringat akan siksa neraka yang amat menyakitkan. Kata petugas penjara, tadi aku sempat pingsan satu jam. Tanpa basabasi lagi, aku langsung bersujud, sambil berterima kasih pada Tuhan, yang belum mencabut nyawaku, lalu aku bertekad, setiap saat akan berdoa dan bertaubat. Tapi apakah rakyat mau mengampuni dosa-dosaku?
                              ✿✿✿
                         Samarinda, 3 Februari 2011


ABDUL RAHIM HASIBUAN DILAHIRKAN di Surabaya, 25 Agustus 1956. Mantan pemimpin redaksi Tabloid Pelopor dan Mahakam Pers serta Daya Televisi (1999--2004) ini pernah menjabat sebagai Redaktur Seni-Sastra-Budaya di mingguan BS Jaya (1980--1984), juga sebagai wartawan harian Manuntung (1991). 

Berikut menjadi koresponden berbagai majalah, seperti Detektif Romantika, Detik, Kriminalitas dan Pencegahan terbitan Jakarta, juga Majalah Fakta Surabaya (1991--1993). la pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Pencinta Sastra. 

Ia mengawali karir jurnalistik sebagai penulis lepas bidang seni di beberapa surat kabar terbitan Kaltim maupun harian Merdeka Jakarta, Surabaya Post, Banjarmasin Post, dan Detektif Romantika. la menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan novelet. Beberapa karyanya dimuat di beberapa surat kabar dan majalah terbitan Kaltim maupun Jakarta. Karya-karya puisinya bersama Emha Dhanyswara/Hamdani (tanpa judul) pernah diterbitkan Dewan Kesenian Samarinda/DKS (1980). 

Beberapa puisinya dapat dijumpai dalam antologi Merobek Sepi terbitan DKS (1978) dan antologi Secuil Bulan di Atas Mahakam terbitan Dewan Kesenian Daerah Kaltim (2000). Puisinya yang berjudul "Wasiat dan "Demokrasi" dimuat pada antologi Medan Puisi (Medan Internasional Poetry Gathering) tahun 2007. Selain aktivitas sastra tersebut, ia sangat aktif sebagai project officer kursus teater Dewan Kesenian Samarinda, bekerjasama dengan Bengkel Teater Rendra (1978, 1979, 1980) di Samarinda. 

Selain itu, ia pernah membacakan puisi-puisinya pada berbagai acara kesenian, yaitu Musyawarah Dewan Kesenian se-Indonesia di Ujung Pandang (1992), TV Jerman Channel II (1992), serta Pertemuan Teater Indonesia di Surakarta (1993). Pun pada Jambore Teater Nasional (1994--1995) dan Renungan Proklamasi di Taman Ismail Marzuki/TIM Jakarta (19931. Mengamati Lomba Baca Puisi Piala HB. Yasin di Jakarta (1993--1995). 

Puluhan karyanya, baik berupa berita, esai, profil, kritik, puisi, cerpen, novelet, dan naskah drama Islami telah diterbitkan berbagai media massa. Puisinya berjudul "Main-Main" ditanyangkan TVRI Pusat. Cerpennya "Investor" dan "Mesin Sex" mendapat Surat Penghargaan sebagai Peserta Sayembara Australia Broadcasting Coorporation dan Voice of Amerika (1987). Cerpen lainnya. "Wartawan Cap Gadis dan "Kembalinya Orang Hukuman sekaligus menjuarai Peringkat I dan II. Puisinya berjudul "Iklan" sebagai Pemenang Juara Harapan I untuk Lomba Penulisan Puisi dalam Lomba Penulisan HUT X SKM Sampe. 

la juga seorang dramawan. Aktivitas berteaternya cukup banyak, di antaranya pernah mentas di acara kesenian Musyawarah Dewan Kesenian se-indonesia di Makassar (1979). la juga menjadi official artistic tim Kaltim pada Pekan Drama Tari dan Teater Daerah tingkat nasional di TIM Jakarta (1984). la juga mengikuti diskusi Puisi Amerika Abad XX di Surabaya yang diselenggarakan oleh Lembaga Indonesia Amerika; Mengikuti seminar Internasional Sastra Indonesia-Melayu (2007), yang diselenggarakan Pusat Bahasa RI di Samarinda. Menjadi narasumber Bengkel Sastra di Berau, yang diselenggarakan Kantor Bahasa Kaltim, dan di Samarinda (2006 dan 2007). la pernah menggagas Pekan Teater Kalimantan di Kabupaten Kutai Kartanegara sekaligus sebagai tim perumus rekomendasinya. Sedangkan pada acara Jambore Teater Nasional di Jakarta (1994--1995) ia berperan sebagai pembicara, moderator, sekretaris merangkap anggota dewan juri pada acara lomba akting 

Berikut ia anggota dewan juri Cipta Puisi POSPENAS se-Kaltim tahun 2007. Peserta Kongres Cerita Pendek ke-V di Banjarmasin (2007). Ia pernah duduk sebagai Anggota Komite Litbang Dewan Kesenian Provinsi Kaltim periode 2007--2012 . 

Sumber: Buku "Kalimantan dalam Puisi Indonesia"

Tuesday, November 25, 2025

Ketika Asing Menyelamatkan Keduanya

Ilustrasi: Pixabay


Kedua orang jahat itu terus saja menjadi target penangkapan oleh masyarakat pembela kebenaran di negara Irung. Sudah sejak lama kebohongan mereka diendus banyak orang. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Semua perkataan keduanya adalah kebohongan. Dan, suatu waktu mereka terpojok karena sama-sama tidak bisa menunjukkan sabuk hitam beladiri Aidua. 

Alhasil, orang asing yang menyuruh mereka berdua membohongi masyarakat tersebut bereaksi. Tidak tanggung-tanggung, keduanya dicitrakan baik di luar negeri. Ya, pencitraan di luar negara calon negeri jajahan itu. 

Apa pencitraan yang diviralkan? Mereka dicitrakan pandai meninju sapi di forum internasional. Media-media pun diperintahkan mewartakan hal tersebut terus-menerus. 

Meski demikian, tetap saja pencitraan itu tidak membuat masyarakat percaya bahwa keduanya memiliki sabuk hitam. 

Sebenarnya cerita di atas hanyalah fiksi. Tetapi, bisa ditarik kesimpulan bahwasannya ketika pihak asing menempatkan agen lapangan mereka di sebuah negara mana pun, orang-orang asing itu akan melindungi mati-matian agen tersebut. 

Pernah melihat kejadian serupa? 


Friday, November 21, 2025

Mobil Dinas dan Sok Tahu

Ilustrasi: Pixabay

Judulnya terkesan aneh? Ya, agaknya seperti itu. Ini terkait ramainya komentar netizen tentang sebuah video di instagram pada Jumat, 14 November 2025 di Kalimantan Selatan. Dalam video terlihat ada sebuah mobil dinas warna putih yang disertai suara seorang bapak paruh baya. Perkataannya lebih kurang bahwa mobilnya diserempet pengemudi mobil dinas tersebut yang ugal-ugalan di jalan raya. 

Setelah dicek di lapangan, mobil dinas tersebut bagian dari rombongan Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. yang merupakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Artinya, sopir dan orang-orang di dalamnya sedang tugas luar. 

Dan, setelah pihak kepolisian melakukan pengecekan badan kedua mobil, ternyata tidak ada bukti gesekan apa pun. Bapak pembuat video itu juga sudah mengakui hal yang sebenarnya, yakni mobil dinas dimaksud hanya terlihat melaju di sisi mobilnya. Tingkat kecepatan itu pun karena sopir mobil dinas berusaha masuk kembali di barisan rombongan sang menteri setelah terpisah beberapa waktu sebelumnya. 

Yang disayangkan, sebagian besar netizen sudah beramai-ramai menghujat pengemudi dan orang-orang di dalam mobil dinas itu tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Banyak masyarakat belum tahu mengenai tugas luar. Mereka yang awam hanya mengetahui bahwa semua pekerjaan abdi negara hanya dilakukan pada jam kerja (pagi sampai sore) dan di dalam kantor saja. 

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran agar tidak ada pihak yang dirugikan. 


Tuesday, November 18, 2025

Tanah Airku Menjelang Tidur, Puisi Karya ZULHAMDANI AS

Ilustrasi: Pixabay


Aku menangis hutanku terbakar dan dibakar
Aku menangis jiwaku terbakar dan membakar
Aku menangis pikiranku terbakar
Aku menangis rumahku dibakar
Aku menangis suku dan suku membakar
Aku menangis sang saka merah putih tak berkibar
Aku menangis bangsaku adalah barbar

Negeriku hanya sehelai sutra putih di awan-awan
Tak melihat lagi nyiur melambai di tepi pantai
Negeriku hanya seuntai benang merah
yang putus dibawa layang-layang
terbang menuju sirna

Perahu-perahu layar kegelapan
membawa rakyat negeri ini semakin berdarah
luka-luka bumi menganga
roh-roh berterbangan
memeluk jasad membusuk
Angin melukis tebing dan ngarai
Gelombang menghempas zaman
Langit tergores oleh kuku garuda
Tak mendengar lagi nyanyian rayuan kelapa
Bangsa ini setetes air di atas daun keladi
Para hantu sedang di pucuk bertengger
menggoyang kursi-kursi pemimpin bercula
Tiada keramahan melukis wajah-wajah
Tiada keiklasan membaca selembar sumpah
Tiada kepastian membawa langkah
Tiada kearifan menebar sukma
Tiada merasa bersalah oleh ulah
Aku terjebak dalam kelahiran dini
Jiwaku terkupas berbaring disuatu ketika
Langkahku membayang dan tergantung di pojok dinding malam
Warisan apa yang harus keberikan anak cucuku nanti
✿✿✿

Taman Anggrek, Jakarta, 29 Januari 2000


Tentang Penyair

ZULHAMDANI AS
lahir di sebuah kota kecil, kota perjuangan Sanga-sanga, 13 Mei 1958. Belajar teater dan film di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film Indonesia) di Yogyakarta. Lulus dari ASDRAFI pada tahun 1982. Dan pernah mengajar pelatihan pantomim di ASDRAFI selama 2 tahun.

Pada tahun 1980--1986 berkeliling di beberapa daerah di tanah air termasuk Kaltim untuk pentas teater, pantomim, dan memberikan Workshop Teater. Sebagai seorang sastrawan dan seniman senior Kaltim, karya-karyanya berupa cerpen, puisi, karya tulis, dan lain-lain sudah banyak dimuat di media lokal, nasional dan internet. 

Salah satu cerpennya termuat dalam buku kumpulan cerpen "Bingkisan Petir'. Juga sudah menulis 100 puisi lebih. Dia juga
seorang penulis skenario TV. Karya tulis skenario TV sudah ditulisnya sebanyak 73 judul, antara lain "Anak Sepanjang Sungai" (50 episode), "Hantu Banyu" (20 episode), "Mandau" (FTV), dan lain-lain. Salah satu episode "Anak Sepanjang Sungai" mewakili Indonesia dalam Festival Sinetron Anak-anak Antarnegara Asia Pasific di Jepang. Begitu pula film televisi (FTV) yang berjudul "Mandau" sudah pernah ditayangkan TVRI Jakarta, TPI Jakarta, TVRI Balikpapan, TVRI Samarinda, dan TV3 Malaysia. 

Murid-murid akting binaannya sudah pernah dua kali sebagai juara umum nasional di Jakarta dalam audisi bintang sinetron. Alhasil sudah banyak dipakai dalam pembuatan sinetron di Jakarta sebagai peran pembantu utama. Dan dia pernah juga membintangi FTV "Mandau" sebagai peran utama (antagonis), film semi dokumenter "Dibalik Penobatan Sultan Salahuddin" di Tenggarong, dan "Apa-apanya Dong" sebagai peran pengganti Titiek Puspa, juga film sejarah "Janur Kuning", "Serangan Fajar", dan "Asal di Fajar
Merah", sebagai peran pembantu dan peran figuran. 

Pada tahun 2002 mendapatkan juara II nasional penulisan buku cerita dengan judul "Dayak-Dayak" di Jakarta yang diselenggarakan oleh Depag RI di Jakarta. Dan mendapatkan DKB Award pada tahun 2002 di bidang teater. Juga pernah menerima 3 kali berturut-turut penghargaan tertinggi dari Pemkot Balikpapan di bidang pembinaan teater dan pemerhati seni pada tahun 2003, penghargaan tertinggi
Walikota Tanjung Pinang, penghargaan Persatuan Penulis Nasional Malaysia, penghargaan Persatuan Penulis di Kerajaan Brunei Darussalam. 

Hingga 2011 masih aktif di organisasi PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) Kaltim dan DKB (Dewan Kesenian Balikpapan), juga masih mengajar di SMA Negeri 1 Balikpapan, SMP Negeri 1 Balikpapan, MTS Negeri 1 Balikpapan, SMP Negeri 3 Balikpapan, dan SMP PD 2 Pertamina Balikpapan dan Dewan Kesenian Balikpapan (DKB). 

Sumber: Buku "Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia