Monday, April 6, 2026

Benarkah Tumbangnya Pemimpin karena Antimasukan?

Sumber foto: Wikipedia

Siapa pun dia, baik sultan, raja, kaisar, maupun presiden, idealnya harus membuka telinganya. Untuk apa? Jawabnya mendengarkan berbagai masukan yang positif. Mengapa? Bukankah dia orang nomor wahid di negerinya? Dengan kata lain, dialah yang terhebat. 

Ya, neskipun demikian, hakikatnya dia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan. Dia bukan Tuhan. Sehingga, sejatinya dia membutuhkan masukan demi masukan agar pemerintahan yang diajalannya bergerak dengan lancar. 

Karena sifatnya umum, maka hal ini berlaku juga bagi presiden-presiden Indonesia, temasuk Prabowo Subianto. Presiden terpilih pada Pilpres 2024 lalu itu wajib mendengarkan semua masukan dari para pakar. Jangan sampai perkataan mereka malah dianggap menjatuhkan. Selama masukan yang diberikan secara gratis tersebut isinya membangun, idealnya diterima dan dijadikan bahan pertimbangan untuk langkah strategis pemerintahannya. 

Dalam catatan sejarah, pemimpin negara yang baik ya memang harus begitu. Kalau sebaliknya, bisa berakibat fatal. Contohnya Sultan Bayezid I yang semula merupakan Sultan Turki Utsmaniyah yang sangat disegani. Dia mendapatkan julukan Sang Petir atau Sang Kilat karena kecepatannya dalam melakukan penyerangan terhadap musuh-musuhnya dalam setiap peperangan. 

Nah, pada perang terakhirnya, yakni tahun 1402 Masehi saat melawan Timur Lank atau Timurlane yang merupakan emir dari Dinasti Timuriyah, dirinya kalah dan menjadi tawanan perang hingga wafat pada tahun 1403 M. 

Walaupun diketahui kekalahannya karena banyak faktor, akan tetapi ada dua momen penting yang membuat dia dan pasukannya lebih cepat tersudut. Pertama, ketika melihat pasukan Timur yang jauh lebih banyak, yaitu berjumlah tidak kurang dari 800 ribu orang (sedangkan jumlah pasukan Sultan Bayezid I tak kurang dari 120 ribu orang), dia mendapatkan masukan agar segera membuat parit sebagai benteng. Tapi, dia menolaknya. Kedua, ketika dirinya disarankan mundur dari peperangan oleh adik iparnya sendiri, yakni Pangeran Stefan Lazarevic (Penguasa Serbia) dan lagi-lagi Sultan Bayezid I menolaknya. 

Alhasil, dirinya ditangkap dan ditawan oleh Timur Lank. Dan, tentu saja pada saat itu juga dirinya bukan lagi seorang Sultan, melainkan tahanan perang yang menyedihkan hingga meninggal dunia  setahun kemudian. 


Sunday, April 5, 2026

Presiden Harus Mengendalikan Ambisinya?

Ilustrasi: Pixabay

Menjadi pemimpin negara bukanlah untuk terlihat hebat, mudah mendapatkan cuan, atau untuk mencapai ambisi-ambisi lainnya. Seseorang yang sejak awal berniat demikian, dipastikan negara yang akan dia pimpinan menjadi lemah dan terus melemah hingga bubar. 

Betapa tidak? Segala potensi negara hanya untuk ambisinya semata. Sebutlah misalnya Presiden Amburadul dari Republik Gundah, yang selalu saja berambisi untuk terlihat hebat di mata asing. Dia tidak peduli anggaran negara defisit. Program-program tidak penting yang menelan anggaran besar pun terus dia jalankan. Ya, anggaran besar, contohnya memberikan makan gratis dari uang pajak dan utang luar negeri kepada peserta didik khusus di taman kanak-kanak, perjalanan dinas ke luar negeri setiap minggu, pembuatan koperasi simpan pinjam berbunga, pembuatan atap kandang sapi, dan pengiriman prajurit ke kawasan konflik yang berbahaya. Semuanya hanya untuk gagah-gagahan. Sehingga saat dirinya berada di luar negeri bisa menyombongkan diri bahwa dia berhasil ini dan itu. 

Padahal, aktivitas-aktivitas yang sejatinya membuat negara bangkrut harus segera dihentikan. Presiden idealnya harus cerdas intelektual, emosional, dan dalam segala hal. Dari sisi intelektual, misalnya, dia haruslah mampu berpikiran waras. Jika anggaran negara sedang tidak baik-baik saja, maka program yang berbiaya besar tidak boleh terus dijalankan. Nafsu untuk mewujudkan segala keinginannya harus diredam. 

Kalau kemudian ada yang mengkritik program-program kerjanya, dia juga harus mampu menguasai dan mengelola emosinya. Segala kritikan itu wajib dia terima dengan lapang dada lalu tanggapi dengan santun dan kerja nyata yang lebih baik lagi. Bukannya malah menolak mentah-mentah seraya berkoar-koar akan menertibkan para pengkritik demi ambisi besarnya. 

Pada intinya, dia harus mampu mengendalikan.ambisinya untuk kebaikan bersama. Nah, pertanyaannya, apakah pada masa sekarang masih ada presiden ideal seperti itu? Ataukah lebih banyak yang berambisi besar tanpa batas? 

King Bahlil Versus Mantan Wapres

Sumber foto: Wikipedia

Pangeran Hormuz atau yang dikenal luas sebagai King Bahlil sedang menjadi buah bibir di Indonesia. Pasalnya, pria bertubuh tegak ini menjadi pahlawan BBM. 

Ya, baik yang bersubsidi, maupun nonsubsidi, bahan bakar minyak tak jadi naik. Itu smua hasil jerih payahnya. 

Di lain pihak, mantan Wakil Presiden Indonesia, yakni bapak Jusuf Kalla malah berkeinginan sebaliknya. Menurutnya BBM dinaikkan harganya. Ini mengingatkan kita pada awal Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Harga bahan bakar minyak, terutama bensin naik drastis waktu itu. Hampir seluruh rakyat Indonesia menjadi korbannya, terkhusus para sopir angkot. 

Dari dua sosok di atas, tentunya King Bahlil lah sosok pahlawan di banyak mata rakyat Indonesia. Dengan kestabilan harga minyak, harga-harga lainnya pun turut aman di pasaran. Bisa dikatakan ini sebuah kebijakan yang prorakyat.

Yang menjadi pertanyaannya, apakah kestabilan tersebut bisa bertahan lama? Ataukah sesaat saja? 


Profesor Diserang Buzzer Istana? Ah Gila!

Ilustrasi: Pixabay

Konon, salah seorang profesor diserang buzzer istana. Sebelum terjadi penyerangan, profesor itu memberikan masukan kepada seorang presiden yang menghuni istana kepresidenan tersebut. Nah, ternyata sang presiden merupakan seorang yang antikritik. Alhasil, para buzzer diperintahkannya untuk menyerang si profesor. 

Untungnya kejadian di atas tidak terjadi di Indonesia. Coba kalau iya, wah gila bener tu. Gilanya kebangetan. Betapa tidak? Indonesia adalah negara demokrasi. Mana mungkin kedemokrasian dikotori aksi buzzer yang tidak terpuji seperti itu? 

Sebagai negara demokrasi, presiden Indonesia wajib menampung dan memperhatikan semua masukan dari mana pun. Ya, bisa dari kalangan akademisi, praktisi budaya, tokoh agama, tokoh adat, bahkan dari pemimpin negara lain. 

Sebutlah misalnya soal makan bergizi gratis. Presiden Prabowo Subianto tidak boleh menyerang pengamat yang mengkritik program  makan tersebut. Atau mengenai gugurnya tiga Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lebanon. Presiden berusia 73 tahun itu wajib menerima masukan demi masukan terkait keselamatan TNI lainnya yang juga tergabung dalam pasukan perdamaian PBB tersebut. Jika sebaliknya, maka Indonesia sudah bukan negara demokrasi lagi. 

Terkait hal di atas, semoga alam demokrasi di negara kita tetap aman. Maksudnya aman di sini tentunya ialah tidak ada penyerangan, tidak ada intimidasi, dan bentuk reaksi hitam lainnya kepada pihak.yang memberikan masukan kepada Presiden Prabowo Subianto.atas roda pemerintahan di Republik ini. 

Saturday, April 4, 2026

Komodo hanya Ada di Indonesia? TIDAK!

Ilustrasi: Pixabay

TERNYATA Indonesia bukan satu-satunya habitat komodo. Di Jepang pun ada. 

Begitulah kira-kira perkataan orang-orang masa depan. Ya, komodo direncanakan akan berumah di Jepang. 

Satwa yang menjadi salah satu ikon Indonesia itu akan dikembangkannya di negeri matahari terbit. Tepatnya di kebun binatang reptil dan amfibi terbesar Jepang yang berlokasi di Kawazu, Prefektur Shizuoka. Konon, ini bagian dari diplomasi hijau dan telah dituangkan dalam nota kesepahaman antara Indonesia dan pemerintah prefektur tersebut. 

Kalau dilihat dari tujuannya, ini program yang bagus untuk kelangsungan hidup komodo. Kita tahu bahwa biaya untuk memenuhi kebutuhan hewan sebesar itu tidaklah kecil dan kini Indonesia sedang defisit anggaran. Dengan fakta yang demikian, perlu kerja sama dengan negara kaya raya seperti Jepang. 

Akan tetapi, Indonesia akan kehilangan sebuah kebanggaan yakni tidak lagi menjadi negara satu-satunya yang menjadi habitat komodo. Sebab, dengan kerja sama itu, di Jepang pun ada komodo. 


Friday, April 3, 2026

Pemerintah Indonesia Tak Semaju Pemerintah Turkiye?

Ilustrasi: Pixabay

Di sini sengaja menggunakan kata pemerintah dan bukan nama negara langsung. Pasalnya, dalam realitas nyata, yang menentukan arah kebijakan atas jalannya sebuah negara adalah pemerintah. Parlemen pun biasanya lebih banyak setuju daripada menolak segala langkah pemerintah. Ya, melalui nlobi-lobi politik pastinya. 

Itulah sebabnya, maju tidaknya sebuah negara lebih ditentukan oleh maju atau tidaknya pula pemerintah yang berkuasa. Jika pemerintah bersangkutan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan daripada kepentingan umum, negara yang mereka kelola pasti tidak berpihak kepada rakyat serta condong kepada kemunduran. 

Di Indonesia, misalnya, banyak inovasi dari anak negeri yang tidak didukung pemerintah. Sebutlah contohnya pesawat buatan Profesor B.J. Habibie, baik N250, maupun R80 yang tidak diteruskan pengembangan dan pembuatannya. Begitu pula kompor biomassa buatan dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Dr. Munammad Nurhuda yang malah diproduksi massal di Norwegia. 

Dan, yang terakhir sempat heboh, yakni bobibos atau bahan bakar original buatan Indonesia bos. Bahan bakar nabati berbasis jerami ini akhirnya dikembangkan di Timor Leste. 

Coba bandingkan dengan Pemerintah Republik Turkiye selama dua puluh tahun ke belakang hingga saat ini. Sebagai pihak eksekutif, di bawah komando Presiden Recep Tayyip Erdogan, mereka selalu menghargai hasil karya anak negeri di sana. Bentuk penghargaan tersebut diwujudkan dengan dukungan penuh. Sehingga, jangan heran Turkiye jauh lebih maju daripada Indonesia. Mereka berhasil membuat industri lokal yang mendunia. Produk-produk mereka telah menembus pasar global. Ya, contohnya drone Bayraktar TB2, Bayraktar TB3, Akinci, Anka 3, Kizilelma, bahkan juga pesawat berawak generasi kelima yang mereka namai. KAAN. 

Pemerintah Indonesia diketahui sudah menandatangani kontrak pembelian 48 unit KAAN. 

Agaknya perbandingan di atas sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan pada judul artikel in. Selain itu, menjadi bukti pula bahwa pemerintah yang maju akan membawa negara ke arah kemajuan. Jika sebaliknya, maka negara itu arahnya sedang menuju kepada kehancuran. 


Presiden Terburuk? Rakyat yang Lebih Tahu

Ilustrasi: Pixabay

Ketika kita ingin tahu siapa sebenarnya sosok tertentu, maka tanyalah orang-orang terdekatnya. Sebab, mereka lah yang melihat mendengar, dan mengindra lainnya sosok tersebut. Ya, mulai dari perkataannya kasar atau tidak hingga perbuatannya baik atau sebaliknya. Sebutlah tentang seorang anak, kedua orang tuanya lah yang lebih tahu bagaimana karakternya. 

Nah, begitu pula dengan sosok presiden. Rakyatnya lah yang lebih tahu gaya kepemimpinannya, kegemarannya, dan sebagainya. Misalnya Presiden A adalah seorang yang otoriter, suka korupsi, gemar berbohong, dan menyukai ingkar janji. 

Sehingga, rakyat jualah yang paling bisa menilai presiden mereka termasuk jenis pemimpin baik atau buruk. 

Bagaimana kalau ada orang asing ikut-ikutan menilai? 

Ada dua kemungkinan, yakni orang asing itu merupakan orang bayaran untuk melaporkan kepada dunia bahwa Presiden B adalah presiden terbaik dunia, misalnya. Dan, yang kedua kualitasnya ada di bawah penilaian oleh rakyat di negara tertentu tersebut. 

Tidak jarang untuk kepentingan politik dan bisnis, ada pemeringkatan pemimpin terbaik dunia. Biasanya tidak sama dengan yang diindra oleh rakyatnya. Itulah sebabnya, model pemeringkatan seperti itu tidak bisa menjadi acuan bagi siapa pun.