Sunday, May 17, 2026

Pemerintah Resmikan Baskom dan Seutas Tali Menuju Sekolah?

Ilustrasi: Pixabay 

Baskom dan seutas tali menjadi dua benda yang digunakan sebagian siswa di Indonesia untuk menuju sekolah. Ya, lebih tepatnya saat menyeberangi sungai sebagian siswa ada yang menggunakan baskom dan sebagian lagi menggunakan seutas tali.

Pertama, baskom dijadikan pengganti perahu. Anak-anak sekolah secara terpaksa duduk di dalam baskom. Lalu dengan tangan kosong, mereka mengayuhnya. Ini tentu butuh keseriusan dan keseimbangan agar baskom tidak terbalik.

Kedua, sebagian siswa menit seutas tali di atas sungai sebagai alat penyeberangan. Ini sangat membutuhkan kekuatan fisik dan keberanian tingkat tinggi.

Nah, pertanyaannya, apakah Pemerintah Indonesia seharusnya segera meresmikan baskom dan seutas tali sebagai benda penyeberangan untuk  sampai di sekolah? 

Idealnya adalah ya. Mengapa? Jawabannya mudah karena fakta di lapangan memanglah demikian. Para siswa tersebut tidak menyeberangi sungai dengan jembatan beton atau kayu, melainkan dengan kedua benda itu meskipun sangatlah berbahaya. 


Swasembada Pangan Jaminan Rakyat Tidak Lapar?

Foto: Pixabay 

Apakah dengan swasembada pangan membuat beras dan makanan lainnya menjadi gratis? 

Agaknya itu jauh dari harapan. Ketika pemerintah berkoar-koar bahwa Indonesia swasembada pangan, makanan tetaplah berbayar.

Lalu jika tidak gratis, apakah harga makanan di pasaran turun? Jawabannya malah naik.

Lantas, apa benar kita swasembada pangan?

Konon, ketika terjadi swasembada pangan, maka setidaknya dampak positif yang sampai di masyarakat adalah harga makanan seperti beras pasti turun.

Dengan kondisi di lapangan yang bertentangan dengan klaim pemerintah soal swasembada pangan tersebut, mungkinkah rakyat akan terbebas dari kelaparan? 

Jawabannya pastilah tidak. Sebagai contoh, para pekerja harian, sebutlah tukang bangunan, saat mereka tidak mendapatkan pekerjaan membuat atau memperbaiki rumah, tentu tidak memiliki uang untuk membeli beras. Selanjutnya, mereka lapar. Dan, pertanyaan yang paling sederhana, apa wujud tanggungjawab presiden saat mereka lapar? 


Saturday, May 16, 2026

Rupiah Ambruk, Orang Desa Dirugikan

Ilustrasi: Pixabay 

"Semoga saja harga kedelai tak naik lagi."

"Aku tak tahu lagi, Wi, kalau harapan itu sirna mengingat rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat."

"Kalau memang begitu, terpaksa harga tempe dan tahu kita naikkan."

"Tapi, kemungkinannya usaha kita semakin sepi. Harga yang lebih tinggi tak seimbang dengan daya beli masyarakat yang turun."

"Lalu kita harus bagaimana lagi? Dengan harga kedelai impor yang naik drastis, susah untuk terus mempertahankan harga produk kita."

Wowo terdiam. Sementara Wiwi tak melanjutkan kata-katanya.

Suasana benar-benar hening. Keduanya terpaku sambil memikirkan nasib mereka dan para karyawan di pabrik tersebut.

Ya, sebagai orang desa yang bergelut di bidang kuliner, yakni sebagai pembuat tahu dan tempe, kenaikan harga kedelai sangat mereka rasakan. 

Begitulah contoh dari dampak lemahnya rupiah yang sudah menebus di angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat. Bahan baku seperti kedelai, misalnya, menjadi lebih mahal. 

Belum lagi mengenai biaya impor energi yang juga naik karena transaksi minyak mentah dan bahan bakar minyak menggunakan dolar AS, kian mencekik masyarakat desa. Dalam hal ini bisa kita pahami bahwa biaya angkut barang dari kota ke desa yang menggunakan BBM pasti menambah mahalnya harga semua barang tersebut. 

Jika hal itu sudah terjadi, tentunya akan berbenturan dengan daya beli masyarakat. Pada akhirnya barang menumpuk di toko dan di gudang. Secara otomatis perekonomian menjadi lesu. 

Kembali ke contoh di atas, pintu pemutusan hubungan kerja sangat terbuka lebar. Bahkan, pabriknya pun bisa ikut ditutup. 

Friday, May 15, 2026

Tugas Kamu Lemahkan Mata Uang dan Tingkatkan Utang Negaramu

Ilustrasi: Pixabay 

"Baik, Bos. Janji politik ini pasti akan saya laksanakan."

"Segera buktikan!"

Pria itu pun dengan penuh hormat mohon diri dan bergegas memerintahkan semua menteri -menterinya untuk menghabiskan anggaran belanja negara yang dia pimpin.

Maka, hari demi hari kian banyak program aneh bermunculan. Mulai dari pembentukan satuan tugas, penciptaan wakil menteri, hingga pengadaan sepatu siswa dengan harga tidak wajar. Alhasil, negara yang dipimpinnya defisit anggaran belanja dan nilai mata uangnya kian lemah terhadap dolar Amerika Serikat. 

"Ha ha ha orang itu begitu gigih menghancurkan negaranya sendiri demi kepentingan dirinya."

"Benar, Bos. Dia manusia rakus yang tak tahu malu."

"Selama masih ada orang seperti dirinya, bisnisku ini akan selalu membahagiakan. Bunga demi bunga pinjaman akan terus masuk. Dan, sebentar lagi dia pasti akan berutang lagi. Ha ha ha ha!"

Sementara rakyat di negara tersebut sudah mulai turun di jalan-jalan menyuarakan kritik dan tuntutan. Ya, termasuk menuntut presiden yang gemar pamer, hobi bertualang, dan gila pujian itu mundur dari kursi jabatannya. Gerakan di dunia maya pun tak kalah besar seperti adanya tanda pagar "Negara Mendung" yang membanjiri media-media sosial. 

Bukannya berempati, simpati pun tidak ada dari si presiden. Dirinya malah memilih melakukan lawatan ke banyak negara. Dan, setiap pulang dari jalan-jalan itu, dia selalu berpidato. Tidak jarang disertai marah-marah, termasuk dalam menyikapi tanda pagar di media sosial dengan mengatakan, "Setiap kali saya jalan-jalan tidak pernah mendung apalagi hujan. Buktinya pakaian dan tubuh saya kering dan dan saya bahagia."

Tak ayal, berbagai komentar dari banyak kalangan kian deras di negara tersebut. Perdebatan antara pengamat dan orang-orang bayaran juga ramai dalam acara debat publik yang disiarkan beberapa televisi di sana. Salah satunya terkait utang negara yang kian membengkak, nyaris mendekati angka sepuluh ribu trilyun. 

Lantas apa yang dilakukan si presiden itu terkait tanggapan masyarakat terhadap dirinya? Seperti biasanya, dia selalu menangkis semuanya dengan klaim-klaim keberhasilan semu. 

"Kalau seperti ini terus sangat berbahaya bagi negara kita, Bung!"

"Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Orang ini antikritik dan arogan. Terlalu kritis, kita yang akan jadi korban."

"Hanya ada satu jalan, yakni menggulingkannya dari kursi presiden."

"Tidak mudah. Dirinya bukanlah sosok kaleng-kaleng. Semua instansi pemerintah sudah dia kuasai. Terlebih pihak asing yang memberinya utang pasti akan memberangus kekuatan rakyat."

Lalu seorang yang lainnya lagi turut bicara, "Benar juga. Kali ini berbeda dengan situasi beberapa puluh tahun lalu. Waktu itu kekuatan asing beserta oknum besar dalam negeri bermain untuk menjatuhkan si tangan besi. Itulah sebabnya, penggulingan berhasil. Nah sekarang, adalah sebaliknya."

Beberapa waktu kemudian tak ada lagi pembicaan. Mendung yang menggantung di langit turun menjelma hujan. Ketiganya segera berlarian mencari tempat untuk berteduh. 

***


Koruptor hanya Orang Suruhan

Ilustrasi Bos Besar: Pixabay 

Jadi, para koruptor jangan langsung dihukum, tetapi cari dulu bukti keterlibatan sang penyuruhnya. Mungkin perlu waktu lama untuk menemukannya. Bahkan, bisa jadi aktivitas itu seperti seorang gadis yang mencari kalung emas kesayangannya di lautan. Meski begitu, kebenaran idealnya wajib diungkap seterang-terangnya.

Ya, apa pun resikonya, para penegak hukum tidak boleh bekerja hanya sampai di titik bawahan, melainkan sampai di kursi atasan yang menyuruhnya korupsi. Selama ini kasus korupsi tidak ditelurusi secara menyeluruh. Setelah koruptor ditangkap, disidang, dan dipenjara, kasus dianggap selesai. Sementara itu sang penyuruh korupsi bebas menikmati uang hasil kerja bawahannya tersebut.

Perlu diingat juga bahwa sang penyuruh itu pun bisa jadi juga orang suruhan. Ada bos besar di belakang tirai yang tak tersentuh sama sekali, namun terus memberikan perintah mengeruk uang negara sebesar-besarnya dengan cara korupsi. Dan konon, bos besar ini adalah orang asing.

Nah, orang asing yang dimaksud ada kemungkinan merupakan presiden negara lain yang lebih besar. Tentu saja, uang hasil korupsi dari negara target akan digunakan demi kemajuan negaranya. Itulah sebabnya, jangan heran jika ada negara yang perekonomian dalam negerinya juga bermasalah, tapi mampu membuat produk-produk berbiaya fantastis. Sebutlah pesawat-pesawat tempur generasi keenam, misalnya 

Eh, ngomong -ngomong masih perlu diteruskankah artikel ini? Ah, sudahlah. Toh ini juga sebatas perkataan sebagian pihak di warung kopi pada waktu santai. Benar tidaknya masih sangat perlu dibuktikan. 


Thursday, May 14, 2026

Mengapa Asing Sebut Prabowo sebagai Perusak?

Ilustrasi: Pixabay 

"Dasar bocah! Sukanya hanya merusak dan merusak!" Benjuto terlihat sangat jengkel kepada anak Mulyono.

Sedang anak tersebut berlari sangat cepat menuju rumah orang tuanya. Dan, selang lima belas menit kemudian ayahnya menghampiri temannya yang masih jengkel itu.

"Nih kuganti gucimu yang pecah oleh anakku."

Benjuto memandang tajam Mulyono.

"Udaaah ga usah memandangku seperti itu! Terima saja uang ini. Terimalah!"

"Anakmu itu memang kelewatan, tapi karena aku masih memandangmu sebagai teman, aku terima."

"Nah, gitu baru asyik."

Beberapa waktu mereka saling membisu. Dedaunan di dekat mereka tampak bergerak-gerak lincah. Debu jalanan juga beterbangan sesuka hati. Sore itu angin memang cukup kencang. Untungnya kedua pria tersebut berambut cepak sehingga tidak mengalami yang namanya rambut berantakan. 

"Oh iya, soal merusak, tadi aku baca The Economist. Salah satu isinya menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sedang merusak ekonomi dan demokrasi di Indonesia."

"Sepertinya media asing itu mengamati sepak terjangnya yang dinilai merusak."

"Ya. Memang terlihat jelas, 'kan? Terutama program makan bergizi gratis yang tidak mendatangkan laba seperser pun. Padahal uang yang digunakan untuk menjalankannya sangatlah besar."

"Di bidang ekonomi sudah banyak pihak menilai program makan-makan itu sungguh membebani keuangan negara kita."

"Sungguh sangat memperihatinkan. Negara berkembang, tapi diperlakukan sebagai negara adidaya. Ibarat motor 125 CC digunakan untuk balapan di kelas 1000 CC."

"Maka, yang ada berupa jalan menuju kehancuran dan kekalahan besar."

"Tapi, bagaimana lagi? Program tersebut harus tetap dijalankan."

"Belum lagi program-program lainnya yang juga sangat boros. Pembelian mobil dari India, pendirian koperasi, hingga pengadaan sepatu siswa, misalnya."

"Jujur, aku penasaran dengan masa depan Indonesia ini."

"Apa pemilu tahun 2029 akan seperti yang diprediksikan banyak orang bahwa semuanya bisa dimainkan?"

"Entahlah? Banyak orang mengatakan bahwa pemilu hanyalah ajang sandiwara. Sekadar formalitas."

"Oh demokrasi, bisa dengan mudah dirusak oleh elit yang ingin menang!"

"Begitulah."

***

Klaim Pejabat: Berhasil, Benarkah?

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Kamu masih ingat si Agus ga?"

"Agus yang mana ya? Soalnya nama Agus itu bejibun.Ada Agus Prabojo, Agus Sebentar, Agus Hdup Jomini, dan banyak lagi."

"Itu lho.yang dulu pacaran ama anaknya pak lurah."

"Lurah yang mana dulu? Lurah yang suka ngibul atau yang gemar jalan-jalan?"

"Bukan kedua lurah itu."

"Terus yang mana?"

"Lurah Soehanta."

"Owh iya, aku masih ingat. Ia dulu yang jadi komandan hansip di sana, 'kan?"

"Benar sekali."

"Bagaimana nasibnya.sekarang?"

"Diinya udah sukses. Udah jadi camat."

"Waaah mujur sekali nasibnya. Terakhir yang aku tahu, setelah jadi komandan hansip, dirinya  dipecat dengan tidak hormat akibat kasus kekerasan, lalu sempat kabur sampai di Bogor."

"Begitulah nasib. Tidak bisa ditebak."

"Gitu aja beritanya?"

Titik menggeleng.

"Terus apa lagi?"

"Kudengar ia tak disukai warga di kecamatan yang dipimpinnya."

"Mengapa?"

"Dirinya selalu saja mengklaim semua programnya berhasil. Padahal sebaliknya."

"Contohnya?"

"Soal koperasi yang didirikannya. Ia mengklaim bahwa koperasi itu sukses besar. Padahal nyaris tak ada masyarakat yang mau jadi anggotanya. Contoh lainnya terkait menaikkan gaji hansip 280 persen, tapi kasus pencurian kian merajalela di sana."

"Wadduh! Parah sekali dirinya."

"Ya, benar sekali. Parahnya lagi ia selalu berkoar-koar di banyak kecamatan bahwa hasil kerjanya sukses besar."

"Menurutku ia sakit. Perlu dibawa ke psikiater atau kalau perlu di rumah sakit jiwa."

"Udah banyak yang menyarankan kayak gitu. Tapi masalahnya, dirinya antikritik dan merasa berada di jalan yang benar."

Sonia tampak geleng-geleng. Sedang teman bicaranya tersebut hanya bisa duduk terpaku. Sementara itu angin sendalu berembus pelan menerpa mereka. 

***