Wednesday, May 13, 2026

BBM Aku Kok Cepet Habis Ya? Efek Ga Naik Harga Apa Ya?

Ilustrasi: Pixabay 

"Ah, paling perasaan lu aja kali?!"

"Ciyusan. Guwa pake ni motor sejauh 100 kilometer, biasanya cuma butuh dua liter pertalite. Nah kemarin itu, baru aja 50 kilometer, eh udah habis dua liter."

"Busyet dah! Berarti lu ngisi satu liter, tapi isi pertalite yang murni cuma setengahnya doank?"

Rita mengangguk.

"Weddew! Gile bener!"

"Guwa yakin ini akal-akalan biar rakyat ga demo."

"Bener kata lu. Kalau harganya dinaikkan, besar kemungkinannya rakyat pada demo. Jadi, biar aman, kandungannya aja yang dikurangin, tapi harga tetap normal."

"Capek banget dah hidup kayak gini."

"Ya, semoga aja perang Iran versus Amrik segera kelar."

"Moga aja demikian."

"Kalau ga, kite-kite yang bakal susah ampe kakek nenek!"

***


 

Kesetiaan Syarat Menjadi Pemimpin Hebat

Ilustrasi: Pixabay 

Pernah suatu waktu ada seorang sastrawan menjual buku-buku karyanya dalam sebuah acara sastra tingkat provinsi. Sebutlah namanya Sapu Jagat. Saat itu dia menjadi salah seorang pembicara di sana. Karena kondisi inilah, ia terpaksa tidak bisa menjaga lapak dagangannya tersebut.

Untuk bisa terus berdagang, dirinya mengajak salah seorang sastrawan lain menjaga dan melayani pembeli. Kita sebut saja temannya itu si Udang. Awalnya ia sangat senang karena ada temannya yang mau diajak kerja sama. Namun, apa yang terjadi? 

Ketika dirinya selesai mempresentasikan makalahnya, ia terkejut. Lapak dagangannya tidak ada yang jaga. Temannya raib ditelan bumi. Usut punya usut, ternyata ada sastrawan lainnya yang meracuni pikiran temannya tersebut agar tidak mau menjaga lapaknya. Ya, kata-kata racun itu lebih kurang seperti ini, "Anda ini seorang sastrawan yang hebat. Karya-karya Anda sudah melanglang buana. Mau-maunya Anda bekerja begini. Sudah, tinggalkan saja! Tidak pantas Anda menjaga lapak buku kecil ini."

Tentu saja hatinya sedih setelah tahu kronologi kejadiannya. Padahal kurang baik apa dirinya memperlakukan sastrawan penjaga lapak dan sastrawan penebar racun tersebut. Bahkan, si penebar racun itu sering numpang tidur dan makan di rumahnya.

Cerita di atas memang benar-benar nyata. Bukan fiksi. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya kesetiaan dalam berteman. Seorang teman idealnya tetap setia membuat temannya selalu bahagia. Hal ini juga berlaku pula bagi seorang pemimpin. Sebab, pemimpin itu sejatinya adalah teman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ada hubungan pertemanan yang baik antarkedua pihak. Dalam konteks kenegaraan, misalnya, presiden dan rakyat harus ada hubungan harmonis agar tercipta negara yang maju.

Presiden harus sering-sering mengunjungi dan mendengarkan segala yang dikatakan rakyatnya, apa pun jenisnya. Kalau berupa kritik, ya diterima dan ditindaklanjuti. Jika berupa permintaan semisal perbaikan jalan rusak, ya segera diperbaiki.

Begitu idealnya sehingga tidak ada jurang pemisah antara pemimpin dan yang dipimpin. Kedua pihak saling berteman dan setia. Bukan malah sebaliknya, rakyat dan pemimpin menjadi dua kubu yang saling berseberangan.


B.J. Habibie Lebih Unggul daripada Prabowo Subianto

Foto: Wikipedia 

Terkait nilai tukar rupiah, bisa dikatakan hingga saat ini B.J. Habibie lebih unggul daripada Prabowo Subianto ketika sama-sama berstatus Presiden Indonesia. Betapa tidak? Pakar pembuat pesawat itu berhasil memperkuat rupiah dari Rp16.800 menjadi Rp6.550 per dollar Amerika Serikat.

Itu prestasi luar biasa sepanjang sejarah Indonesia. Dan, jika dibandingkan dengan masa sekarang, jauh sekali perbedaannya.

Kala itu, Presiden B.J. Habibie sibuk bekerja demi Indonesia khususnya rakyat di dalamnya. Pengganti Presiden Soeharto tersebut berani mengambil langkah penting berupa restrukturisasi perbankan. Sebutlah misalnya menggabungkan empat bank berplat merah menjadi satu bank, yakni Mandiri. Ini berfungsi memperkuat sistem keuangan nasional. Bank Indonesia juga dibuat terbebas dari intervensi politik dengan membuatnya independen dengan Undang -Undang Nomor 23 Tahun 1999.

Yang tak kalah pentingnya, Presiden Habibie waktu itu menstabilkan harga kebutuhan pokok dengan tidak menarik subsidi BBM dan listrik. Sehingga, rakyat tidak semakin sengsara. 

Nah, kalau sekarang lebih kepada menu makan bergizi gratis, pengadaan mobil impor, pembuatan genteng, kunjungan ke luar negeri, pendirian koperasi desa, menambah utang negara, dan aktivitas-aktivitas lain yang sifatnya memperbesar penggunaan anggaran belanja negara. 

Itulah sebabnya, banyak pihak juga berpendapat seharusnya Prabowo Subianto meniru langkah strategis B.J. Habibie yang bekerja sepenuhnya untuk Indonesia. 


Keracunan MBG Belum Dikalahkan Juri di Kalbar

Ilustrasi: Pixabay 

Kata sebagian orang, kasus keracunan akibat makan bergizi gratis (MBG) masih unggul daripada kasus juri dan pewara lomba cerdas cermat di Kalimantan Barat. Ya, meskipun sudah diledakkan dengan bahan peledak tingkat tinggi, tetap saja kalah jauh dari yang namanya racun.

Benar, racun lebih kuat daya rusaknya sampai ke hati terdalam. Betapa sedihnya para orang tua yang anak-anak mereka meninggal dunia akibat keracunan MBG. Kehilangan orang-orang terkasih benar-benar menyayat jiwa. Dan, kasus ini bisa dikatakan berkepanjangan. Dari satu sekolah ke sekolah lainnya. MBG yang telah menjadi racun sangat meresahkan publik. 

Di bawahnya, ada kasus berupa MBG basi. Lalu ada MBG berulat. Di bawahnya lagi, MBG kurang memenuhi unsur gizi. Bahkan, ada yang berupa sebiji buah kelapa muda dan siswa disuruh memilih sendiri untuk dibawa pulang. 

Ketidakberhasilan MBG sebenarnya menjadi catatan paling menggelisahkan dalam sejarah politik dunia internasional. Program lanjutan dari Jokowi ke Prabowo tersebut masih jauh dari predikat baik. Perlu perbaikan luar biasa di banyak sisi guna mewujudkan Indonesia emas pada masa datang.

Kalau diperhatikan, MBG akan dikatakan berhasil setelah kepemimpinan Prabowo Subianto berakhir. Mungkin sekitar tahun 2040.  

Menurut sebagian orang yang lain lagi, periode kedua Prabowo Subianto yang didukung Barat, yakni 2029--2034 masih sekadar klaim keberhasilan MBG secara sepihak (pihak presiden). 

Lantas, bagaimana menurut Anda? 

Monday, May 11, 2026

JK dan Amien Dukung Anies 2029?

Ilustrasi: Pixabay 

Cukup kuatlah mereka berdua berperang demi Anies? Ini pertanyaan paling akar sebelum tumbuh menjadi tanaman bangsa. 

Menurut sebagian orang, agaknya dua naga itu terlalu lemah jika dihadapkan pada dua kekuatan besar dunia. Pertama, kekuatan rantai bambu. Disebut rantai karena sebenarnya yang pertama ini adalah gabungan dua kekuatan, yakni Cina Pusat (Republik Rakyat Cina) dan Cina rantauan (pengusaha sukses berdarah Cina di Indonesia). 

Masih kata sebagian orang juga, keduanya berpadu dalam menguasai Indonesia. Ya, penguasaan yang dilakukan melalui penempatan "orang mereka" menjadi presiden di negara berjulukan jamrud khatulistiwa ini. Untuk melawan kekuatan yang pertama  sangatlah sulit. Jejak rekam rantai bambu sudah terbukti hebat. Konon, Amerika Serikat saja sudah lebih daripada satu kali mereka kuasai melalui Partai Demokrat di sana. Sebutlah, Bill Clinton, Barack Obama, dan Joe Biden merupakan orang-orang mereka. 

Nah, lalu kekuatan kedua. Kekuatan ini adalah kelompok barat yang juga sangatlah susah dilawan. Melihat fenomena seperti itu, Jusuf Kalla dan Amien Rais pasti kewalahan. Ujung-ujungnya berakhir dengan kekalahan. 

Lantas, bagaimana caranya agar kedua pria sepuh tersebut berhasil memenangkan Anies Rasyid Baswedan dalam Pilpres 2029?

Kata sebagian orang yang lain lagi, mereka harus bersekutu dengan salah satu kekuatan besar itu. Pastinya dengan bersedia mengiyakan seluruh kehendak kekuatan yang mereka pilih sebagai sekutu. 

Yaaah, begitulah kata orang-orang mengenai isu tentang upaya Jusuf Kalla dan Amien Rais berjuang mengusung Anies menjadi Presiden Indonesia. Semuanya hanyalah pendapat. Bisa salah, bisa benar. Anda pun bisa dan boleh berpendapat apa saja terkait dengan hal di atas.


Jurinya Belum Menikmati MBG?

Ilustrasi: Pixabay 
 

"Jon!"

"Ya?"

"Lu udah tahu belom soal lomba cerdas cermat empat pilar MPR di Kalbar?"

"Yang jurinya viral itu, 'kan?"

"Tepat sekali."

"Emang kenapa?' Lu gak setuju dengan keputusan jurinya?"

"Tentu saja. Seharusnya juri haruslah bijak."

"Owh...."

"Lu kok anteng -anteng bae? Ga merasa sebel gitu?"

"Sebel sih sebel, tapi guwa masih sibuk dengan  adonan ini."

"Oh iya. Benar juga. Adonannya belum kalis."

"Selain itu, guwa juga sebenarnya lagi sedih."

"Sedih?"

"Ya."

"Masalahnya apa kok lu sedih?"

"Dagangan."

"Emang dagangan lu kenapa?"

"Lu lihat aja sendiri. Adonan yang guwa buat lebih sedikit daripada bulan lalu."

"Penjualan sepi?"

Joni mengangguk.

Raihan menepuk-nepuk pundak temannya tersebut.

"Jadi, guwa ga sempet komentar apa-apa soal juri di Kalbar itu. Paling hanya satu celetukan yang muncul di otak guwa."

"Apa?"

"Jurinya pasti belum menikmati menu bergizi gratis."

Sontak Raihan tertawa setelah mendengar perkataan temannnya itu.

"Bener, 'kan? Penerima MBG belum merata. Belum dirasaan oleh seluruh rakyat Indonesia termasuk para juri lomba cerdas cermat empat pilar di sana."

"Masuk akal. Coba kalau merata, pasti lomba itu akan aman dan terkendali ya?"

"Ya. Harus merata. Tidak boleh tidak. Contoh nyatanya saat ini. Guwa lapar, tapi belum bisa menikmati MBG."

"Ha ha ha ha! Bagaimana kalau kita makan nasi Padang?'

"Lu yang neraktir?"

Raihan mengangguk. Dan tanpa buang waktu, mereka segera beranjak dari tempat itu.


Mempertahankan Swasembada Pangan

Foto: Pixabay

Awal 2026 dikatakan bahwa Indonesia sudah swasembada pangan. Hal itu ditandai dengan tidak adanya impor beras karena stoknya cukup dari produksi domestik. 

Pertanyaan mendasarnya, apakah fakta swasembada pangan akan berlangsung terus-menerus? 

Dalam sejarah pangan di dunia, tentu saja swasembada tidaklah bersifat tetap. Adakalanya swasembada, adakalanya tidak. Ketika sawah mengalami kekeringan ekstrem, misalnya, panen akan terbatas.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk bisa bertahan? Agaknya ini sangat sulit. Pengaruh cuaca ekstrem tidak bisa diatasi dengan mudah. Dengan kata lain, swasembada pangan tidak bisa dipertahankan. Hal itu pun masih bisa dimaklumi. Dan, untuk mencukupi kebutuhan pangan pada rentang waktu sulit tersebut, mau tak mau harus mengimpor beras.

Nah, jika semuanya sudah mendukung, barulah diupayakan agar bisa kembali swasembada pangan.