![]() |
| Foto: Pixabay |
Anggaran belanja negara sudah begitu banyak digunakan untuk beragam program yang dinilai sebagian pihak sebagai pemborosan. Mulai dari program makan bergizi gratis (MBG), gentengisasi, pembelian mobil dinas, hingga perjalanan presiden ke luar negeri.
Dan, program-program itu belum sama sekali menghasilkan laba atau pendapatan negara. Artinya, semua program pemborosan (menurut sebagian pihak) itu murni masih bergantung pada pajak dan utang luar negeri. Bisa dikatakan hanya membakar modal belaka dan menjadi kebanggaan bagi presiden agar dirinya dihormati di luar negeri.
Nah, sebagian pihak berpendapat, kalau ini diteruskan, kemungkinan besar Indonesia akan bangkrut. Bagaimana tidak? Usaha apa pun jika hanya mengeluarkan modal tanpa laba, pasti akan gulung tikar. Jika pun memaksakannya dengan jalan memperluas pajak, rakyat pasti tidak akan mampu menutupi kerugian negara tersebut. Jangankan membayar pajak, dalam sehari saja belum tentu ada penghasilan yang bisa masuk di kantong sebagian rakyat. Ingat, tidak semua rakyat Indonesia ini kaya. Masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan.
Itulah sebabnya, banyak kalangan menginginkan program-progtam bermodal raksasa, seperti MBG segera dihentikan demi keberlangsungan hidup Indonesia pada masa-masa mendatang. Harus ada sikap tegas demi eksistensi negara.
Pertanyaan sederhananya, apakah sang presiden lebih memilih demi Indonesia ataukah akan terus beraktivitas demi dirinya dihormati di luar negeri?














