![]() |
| Ilustrasi Pixabay |
Sebuah lorong waktu mengantarkan seorang pria tua sampai pada masa sekarang. Dia dilahirkan pada tahun1293. Ketika tentara dari Dinasti Yuan sampai di tanah bekas kekuasaan Singosari, dirinya berlari ke tempat yang dianggapnya aman. Sebuah gunung. Ya, Gunung Bromo.
Tubuh tuanya itu dia paksa untuk terus berjalan menapaki jalan berliku. Kadang melewati hutan, terkadang tepian sungai, dan tak jarang melintasi jalan padat penduduk. Setiap kali dia bertemu orang, dirinya langsung mengatakan pasukan Yuan sudah mendarat di pulau mereka. Sebagian orang bergegas menyelamatkan diri. Ada.yang mengikuti jejak pria tersebut, ada juga yang menuju arah lain.
Tak lama setelah kepergiannya, terjadi peperangan dahsyat antara pasukan Yuan yang dipimpin Kubilai Khan plus pasukan Raden Wijaya melawan pasukan Kerajaan Kediri.
Singkat cerita si pria tua sampai juga di puncak Bromo. Entah bagaimana ceritanya, sebuah cahaya mendekatinya dan membawanya terbang dan menghilang dari pandangan para pengungsi lainnya.
Tingkat kecepatan dalam perjalanan bersama cahaya itu sangat di luar nalar. Lebih kurang dua menit, dirinya mendarat di tempat asing. Benar-benar asing.
Dia bingung melihat mobil, pesawat terbang, kereta api, dan lainnya. Akan tetapi, lambat laun dirinya terbiasa dengan segala keganjilan itu. Bahkan, dirinya cepat bergaul dengan orang-orang yang baru ditemuinya.
Sekitar satu tahun berikutnya dia akrab dengan sebuah partai politik. Lama-kelamaan, dirinya dipercaya partai tersebut mencalonkan diri sebagai calon legislatif, tapi gagal. Kemudian mencalonkan diri menjadi walikota dan lagi-lagi gagal. Setelah lima tahun selanjutnya dia dipercaya menjadi calon presiden. Tiga kali menjadi calon presiden selalu gagal. Dan, pada usianya yang sudah manula, akhirnya dia terpilih sebagai presiden di Republik Bakuha Duki.
Sesuai dengan masa lalunya dari zaman dulu, maka semua program yang dijalankannya sangatlah kuno. Dengan kata lain tidak kekinian. Contohnya program menggunakan atap dari ijuk, program penggunaan ikat kepala dari kulit pohon, program ngasih makan para prajurit, dan segala kekunoan lainnya.
Rakyat pun dibuat pusing tujuh keliling dengan program-program tersebut. Tapi, apa boleh buat? Rakyat terpaksa mengikutinya.














