![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Prabowo Subianto yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pernah berkampanye soal makan. Ya, makan. Lebih tepatnya makan siang bagi siswa. Atau, orang-orang lebih mengenalnya dengan istilah makan bergizi gratis (MBG).
Istilah gratis tersebut sebenarnya juga dipaksakan. Hal ini karena siswa tidak perlu bayar di tempat. Mereka dan rakyat Indonesia wajib membayar MBG lewat pajak, seperti saat siswa-siswi itu membeli mi instan atau sosis di minimarket.
Sekarang kita tinggalkan sejenak soal MBG. Belakang santer pembicaraan mengenai ucapan belasungkawa secara resmi oleh Prabowo Subianto yang telat atas gugurnya tiga tentara nasional Indonesia (TNI) di Lebanon. Benar, telat. Kalah cepat daripada presiden lain, semisal Presiden Spanyol.
Dalam hal ini "seakan-akan" nyawa TNI menjadi semu di mata presiden. Dan, kita balik lagi ke MBG. Nah, kalau sudah menyangkut makan dibayar lewat pajak itu, Presiden Prabowo Subianto mati-matian mempertahankannya. Tentu saja demikian. Selain MBG merupakan salah satu janjinya selama kampanye pada Pilpres 2024 lalu, program tersebut juga menjadi ladang bisnis di bidang kuliner. Para pemilik dapur MBG, contohnya, sangat diuntungkan dengan adanya program ini.
Sehingga, berdasarkan fakta-fakta di lapangan, MBG dipandang lebih utama daripada hal-hal lainnya di mata Sang Presiden.














