![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebenarnya sudah selesai di Indonesia. Artinya meskipun berbeda penetapan antara Muhamadiyyah dan NU, misalnya, tidak perlu dipermasalahkan. Itu biasa-biasa saja.
Akan tetapi, belakangan ini hal tersebut diperuncing kembali. Oleh siapa? Tentu yang memiliki kepentingan.
Kepentingannya macam-macam. Bisa untuk pengalihan kasus, demi konten, dan lainnya. Sebutlah zaman pak Harto dulu santer terdengar bahwa penetapan awal dua bulan itu memang disengaja. Bahkan, beberapa titik pengamatan yang berhasil melihat hilal pun tidak diakui. Pemerintah lebih memilih titik-titik pengamatan yang tidak dapat melihat hilal sehingga terjadi perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Dengan demikian pemerintah bisa santai "mengerjakan yang lain" tanpa kegaduhan kritik oleh masyarakat.
Di media sosial juga tidak kalah seru. Banyak akun yang menampilkan perbedaan ini. Tujuannya ya agar mendapatkan tayangan yang banyak. Cuan pun berdatangan.
Kita tentu perlu bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan mengenai penetapan awal dua bulan tersebut. Singkatnya, beda ya wajar. Untuk apa dipermasalahkan?














