Saturday, September 26, 2026

Wajib Serahkan Laporan "BAIK" agar Diriku Tetap Menjabat Menteri

 

Ilustrasi Pixabay 

"Presiden Ins Tan tersenyum saat terima laporan yang baik oleh para menterinya. Kalau sebaliknya, menteri bersangkutan pasti dipecatnya."

"Sungguh tidak waras presiden itu. Mana mungkin di lapangan selalu baik? Pastilah ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki."

"Pokoknya presiden yang sudah sangat tua itu maunya begitu agar dia bisa membanggakan diri sebagai presiden sukses di setiap sendi kehidupan."

"Kalau seperti itu, hal-hal yang seharusnya diperbaiki di lapangan tidak tersentuh oleh presiden aneh tersebut."

"Itulah sebabnya, demonstrasi sering terjadi di Republik Ka Si Han. Rakyat di sana bereaksi atas kondisi-kondisi yang sangat memperihatinkan, tapi dilaporkan selalu baik-baik saja oleh para menteri kepada sang presiden."

"Antara laporan dan fakta di lapangan tidak sejalan."

"Terpenting jabatan sebagai menteri tetap aman dan gaji beserta lainnya mengalir lancar."

***

Mengapa Harus Bekas? Bangga Berkapal Induk Bekas?

 

Ilustrasi Chatgpt 

"Terkadang aku suka heran dengan Republik Sun Gai Jang itu. Mengapa di sana barang bekas malah dibeli atau bahkan diterima gratis?"

"Iya sih. Sebutlah contohnya kereta api bekas sering dibeli dari luar negeri. Bahkan, kapal induk pun juga bekas."

"Padahal khusus soal kapal induk, mereka tidak membutuhkannya. Di sana sudah memiliki kapal induk alami dan permanen, yakni pulau-pulau, baik besar, sedang, maupun kecil."

"Benar. Pesawat militer mereka bisa mendarat di pulau-pulau itu. Dan, untuk misi penyelamatan dan penanganan bencana nasional pun tidak perlu kapal induk."

"Dengar-dengar, itu bagian strategi penguasaan atas negara tersebut oleh Republik Rakyat Utara."

"Oh benar juga. Masuk akal. Dengan adanya kapal induk yang berbiaya besar dalam perawatannya, itu sangat bagus dalam menguras anggaran belanja negara di sana. Ujung-ujungnya Republik Sun Gai Jang kehabisan uang, lalu berutang kembali."

"Itu maksudku, strategi utang. Lilitan utang akan kian kencang mengikat negara yang secara de facto nyaris punah tersebut."

"Padahal, seandainya saja negara berpenduduk besar itu mandiri dengan dipimpin presiden yang kuat, kemungkinan akan menjadi negara adidaya."

"Tapi, bagaimana lagi?"

***

Friday, September 25, 2026

Presiden Termunafik dan Teregois Era Kekinian

Ilustrasi Chatgpt 

"Ketika dia berpidato di sebuah negara, dia puja dan puji pendiri negara tersebut. Tujuannya agar mendapatkan dukungan dari orang-orang di sana termasuk presiden negara itu."

"Kala sedang mencari dukungan dari barat, dia pun lantang membela Israel agar bisa melawan kekuatan timur di negaranya."

"Saat sedang berpidato di sebuah pondok pesantren dia malah berkata sebaliknya bahwa dirinya membela Palestina. Ya, supaya dirinya mendapatkan dukungan dari orang-orang di sana yang pro terhadap Palestina."

"Akhir-akhir ini dia tidak mengakui pidatonya sendiri soal kata yang tidak pantas dilontarkan kepada para ahli di segala bidang."

"Ya, sebagai presiden di Republik Ay Jian, dia benar-benar munafik agar mendapatkan dukungan untuk dirinya sendiri."

"Sungguh egois Presiden Da Ki itu!"

***


Sunday, September 20, 2026

Pakar aja Goblok, Apalagi Presiden yang Bukan Pakar? Tentu Lebih Goblok

 

Ilustrasi Chatgpt 

"Di negara tetangga kita sedang viral sebuah kata kotor."

"Kotor?"

"Ya. Kata itu tidak dibersihkan dengan adab. Seorang pria tua yang sedang menjadi presiden di sana menggunakannya tanpa sensor."

"Owh Presiden Pi Kun Dah rupanya. Dia memang suka menggunakan kata-kata kotor. Sepertinya itu sudah dianggap hal.yang baik olehnya. Jujur, aku sibuk sekali dua hari terakhir ini jadi tidak tahu soal itu. Memangnya kata apakah yang digunakannya tersebut?

"Goblok."

"Wow! Siapa yang dia sebut goblok?"

"Para pakar yang mengkritisi kesalahannya dalam menjalankan roda pemerintahan."

"Ha ha ha ini lucu. Kalau para pakar disebutnya goblok, lalu dia yang bukan pakar disebut apa?"

"Tentu saja dia lebih goblok daripada para pakar."

"Nah, kalau dia lebih goblok, seharusnya dia mendengarkan dan mengikuti kata-kata para pakar  tersebut. Bukan malah sebaliknya."

"Yaaa namanya aja Presiden Pi Kun Dah ya memang demikianlah adanya."

"Kalau kegoblokan dibiarkan berada di atas ilmu, maka berpotensi menjadi sumber kehancuran. Republik Jun Hai Pok sudah kian mendekati hal itu."

"Hayyaaaa."

***


Presiden Sering Pidato, tapi Bukan yang untuk Rakyat

 

Ilustrasi Chatgpt 

"Program minum manis gratis selalu saja menjadi bahan pidatonya."

"Begitu pula toko kelontong menjadi bahan andalan pidato yang disampaikannya."

"Selebihnya soal swasembada pakaian."

"Dan tidak lupa ada kata 'Saya terima laporan' dan 'Saya kaget' sebagai bumbu penyedapnya."

"Capek! Isi pidatonya itu-itu mulu."

"Yaaa maklumlah emang segitu kecerdasan intelektualnya."

"Jugaaaa terlihat jelas seberapa tipis kecerdasan emosional."

"Betul. Dia tidak bisa menguasai emosinya secara cerdas. Dia lekas marah, misalnya."

"Dia pun terlihat sangat bodoh sosialnya."

"Itu sangat terlihat jelas betapa bodohnya dia dalam berkomunikasi."

"Dirinya tidak bisa menjaga perasaan orang lain. Sebutlah contohnya bagaimana dirinya mengatai para dukun dengan kata 'goblok'. Padahal dukun disebut pula dengan orang pintar."

"Kalau aku seorang dukun, pastinya aku sangat tersinggung dan terpukul dengan diksi yang digunakannya tersebut." 

"Aaaah! Dasar goblok sekali Presiden Jia Kung Kung itu"

"Sangat apes nasib Republik Hua Hiya Heye dipimpin olehnya.

"Seharusnya dia pidato soal hal-hal penting yang berguna bagi kesejahteraan rakyatnya. Eh ini malah demi dirinya sendiri.

"Yaaaah mau apa lagi?

***

Friday, September 18, 2026

Baginya Pakar Itu Goblok, Pantas Pelajar hanya Dikasih Makan Roti Gratis, Bukan Buku

Ilustrasi Pixabay 

"Menjadi pakar berarti menjadi goblok. Demikianlah menurut Presiden Gen Dut Ah di Republik Ka Mu Kok."

"Ha ha ha dasar presiden terbodoh sejagat raya."

"Ya, inti pemikirannya begitu."

"Itulah sebabnya, dia lebih memprioritaskan rasa lapar dan lapar para pelajar daripada memberikan mereka buku."

"Betul sekali. Sejatinya presiden berkulit keriput itu tidak pandai. Dia bodoh. Dirinya tak mau belajar lebih dalam dan luas. Dia tahunya bersenang-senang, termasuk senang melihat rakyatnya bodoh dan sengsara."

"Benar-benar pria sakit jiwa dirinya itu."

"Lantas masih adakah yang bisa diharapkan lagi di negara itu?"

"Tentu saja tidak ada. Semuanya sudah terlambat. Negara berjuluk Mahkota Raja tersebut tinggal menunggu kehancurannya saja. Yaaa paling tinggal beberapa bulan lagi statusnya berubah secara de facto, yakni dari yang semula sebuah negara berubah menjadi sebuah provinsi baru milik negara lain."

"Sungguh mengerikan cara penjajahan tanpa perangan fisik ini. Para penjajah menguasainya hanya dengan menjadikan orang super goblok menjadi presiden boneka mereka."

"Dan, Presiden Gen Dut Ah sangat menikmatinya."

***

Para Pemimpin Asing mungkin Takut kepada Dia? Itu Dugaan Jahat! Fitnah Maksimal!

 

Ilustrasi Pixabay 

"Itu dugaan yang sangat jahat. Dia sudah. berpikiran bahwa para pemimpin asing itu penakut. Sungguh hal tersebut finah yang lebih kejam daripada pembunuhan. Presiden Ang Kuh Yew memang penjahat sadis."

"Sebenarnya tidak ada alasan sekecil upil pun yang membuat para pemimpin negara lain takut kepada presiden peyot sepertinya."

"Yaaaa itu dugaan yang muncul dari jiwa yang sakit, jiwa yang haus pujian, jiwa yang kering dengan kerendah-hatian, jiwa yang harus disirami dengan kedamaian."

"Orang seperti dia seharusnya dimusnahkan dari muka bumi ini. Sebab, dengan segala sifat buruknya itu, dirinya akan selalu dimanfaatkan oleh orang-orang di bawahnya. Para menterinya pasti akan menjilati dirinya sepuas mungkin agar dia tersanjung dan segera memberikan bonus kepada mereka."

"Jika hal itu terus berlangsung, Republik Lang Sung Ja yang dipimpinnya akan selalu masuk dalam kategori negara rendah kinerja dan kaya akan laporan-laporan palsu demi sang presiden yang gila pujian tersebut  terus tersanjung."

"Parahnya, iu masih terus terjadi. Terpenting dia bahagia dengan pujian dahsyat meski laporan-laporan yang diterimanya hanyalah berupa kebohongan mutlak"

"Dan setiap kali dia ngomong, selalu saja berdasarkan laporan-laporan dusta. Sebutlah soal keberhasilannya dalam menyejahterakan rakyat berdasarkan laporan palsu, yakni dikatakan bahwa pengupas kulit permen dapat upah $7.000 dan pengangkat sisir rambut dapat upah $800. Padahal di lapangan tidakkah demikian adanya."

***