![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Ini baru yang namanya menciptakan lapangan kerja baru. Produknya diekspor dan hasilnya dirasakan bagi kemakmuran rakyat. Sebutlah seumpama membangun perusahaan drone tempur bernama Khatulistiwa. Diperlukan tenaga kerja mulai dari para insinyur penerbangan hingga petugas kebersihan. Produk-produknya semisal drone Jamrud 45, Nusantara 90, dan Kepulauan J-5555 diekspor ke banyak negara. Maka, dolar demi dolar terkumpul sebagai keuntungan. Setelah dirupiahkan, menjadi gaji para tenaga kerjanya dan sebagian untuk kemakmuran rakyat, seperti pembangunan sarana dan prasarana.
Model ini bisa diterapkan di Indonesia. R-80 hasil tangan B.J. Habibie idealnya diproduksi dan terus dikembangkan. Atau, jenis produk lain dan juga jasa. Semakin banyak pemerintah menciptakan lapangan kerja baru dengan berbagai inovasi, memungkinkan negara ini mampu menjadi negara maju yang berani bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
Dengan itu pula, Indonesia pun berpotensi terlepas dari jeratan berbagai utang dan tekanan luar negeri.
Pertanyaannya, mampukah Pemerintah Indonesia memulainya?
Selama ini yang dimaknai sebagai menciptakan lapangan kerja bukanlah model di atas. Pola pikir Presiden Prabowo tidak demikian. Buktinya, program makan bergizi gratis (MBG) yang tidak ada keuntungan secara finansal dianggap bentuk menciptakan lapangan kerja. Memang benar sebagian orang Indonesia diangkat menjadi para pekerjaannya, tetapi uang untuk menggaji mereka bukan dari keuntungan atau laba, melainkan dari uang pajak rakyat.
Program MBG hanya membuat Indonesia tekor. Betapa tidak? Setiap hari uang pajak rakyat harus dikeluarkan sebanyak Rp1, 2 trilyun hanya untuk biaya program ini. Coba kalau tidak ada MBG, tidak ada pula pengeluaran (pemborosan) sebesar itu. Uang bisa disimpan sebagai kas negara atau digunakan untuk hal-hal yang urgen atau mendesak, yakni contohnya perbaikan jalan rusak dan penanganan bencana secara optimal.














