![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
"Baik, Tuan. Saya akan segera membangun universitas baru."
"Kalau kamu bingung universitas apa, namai saja Universitas Lansia. Gunanya untuk mencetak para pemimpin berusia tua seperti dirimu."
"Siap, Tuan. Akan saya laksanakan."
Tak lama kemudian, Presiden Negara Buncat yang bernama lengkap Lan Jut Sia Sia tersebut segera berpidato. Isinya berupa pengumuman bahwa dirinya akan membangun sepuluh Universitas Republik Lansia. Danamya dari pajak baru dan utang. Para menteri dan pejabat di bawah menteri bersorak gembira atas rencana tersebut.
Hari-hari berikutnya petugas pajak mengejar rakyat sampai di dalam jamban, kamar mandi, bahkan ruang tidur. Uang yang berhasil dikumpulkan segera digunakan untuk membangun sepuluh Universitas Lansia. Selain itu, Menteri Keuangan, Prof. Dr. Primitifno Lidi Sandiwara, ditugaskan menjemput utang dari elit global yang menyuruh Presiden Lan membakar anggaran negara tersebut.
Alhasil, rakyat di sana kian menjerit. Sebagian bahkan masuk rumah sakit jiwa karena diburu petugas pajak. Sebelum mereka menjadi gila, para petugas berwajah ganas itu menagih pajak minum, pajak duduk, pajak berbicara, dan pajak-pajak lainnya kepada mereka. Lalu hasil lainnya yang tak kalah merugikan Negara Buncat adalah, utang negara tersebut semakin meninggi. Sementara Presiden berusia sangat tua itu terlihat berjoget ria sambil tersenyum bahagia.














