![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Konon di sebuah wilayah padang rumput ada negara bernama Republik Lelucon (RL). Pemimpinnya seorang mantan preman yang gemar memalak banyak orang. Saat dirinya menjabat sebagai presiden boneka dari negara lain, yakni Republik Rakyat Matahar (RRM)i, ia pun terus saja memalak banyak orang yang disebut rakyat.
Meskipun sudah banyak mendapatkan uang setoran hasil memalak (pajak), dirinya masih diperintahkan Presiden RRM untuk menyerahkan bunga bank milik mereka. Benar, sebagai pendapatan tetap, pihak RRM mewajibkan pemerintah RL selalu menggunakan uang mereka. Kadang-kadang dalam bentuk utang, ada kalanya dalam bentuk investasi proyek infrastruktur.
Ya, meskipun disebut investasi, tetapi pihak Negara RL diminta menyerahkan bunga dari total uang investasi proyek tersebut. Kedengarannya sangat aneh. Dan, mau tak mau bunga pun harus diserahkan. Bahkan, Negara RRM mendapatkan tanah beserta bangunan untuk cabang bank investasi proyek ini di Negara RL. Wow sekali, 'kan?
Sementara Presiden RL terlihat selalu santai. Mungkin banyak orang heran mengapa dirinya bisa santai meskipun di bawah tekanan RRM. Jawabannya mudah. Sebab, yang menanggung segala tekanan ekonomi tersebut ialah rakyat. Sebesar pun uang yang harus diserahkan ke pihak RRM, rakyat lah yang membayarnya dengan pajak.
Itulah sebabnya, rakyat di sana sering bertanya, "Kapankah kita merdeka?"














