Thursday, June 11, 2026

Halo, Sahabat! (Sambungan Telepon Antarpemimpin Negara Maju saja) Presiden Rendahan Silakan Datang!

 

Ilustrasi: Pixabay 

Punya banyak sahabat tak harus saling berkunjung jika memakan anggaran pengeluaran yang.besar. Cukup dengan sambungan telepon, maka komunikasi dua arah pun terwujud.

Ya, sering diwartakan bahwa tak jarang antarpemimpin negara pun semisal Presiden Erdogan dan Presiden Putin berkomunikasi lewat sambungan telepon. Bahkan, Presiden Republik Turkiye itu tak segan berbicara dengan Presiden Trump lewat sambungan telepon juga untuk membahas hal penting.

Ini tentunya merupakan pemanfaatan teknologi dan penghematan keuangan negara masing-masing. Kalau seandainya mereka ingin bertatap muka pun bisa dengan menggunakan zoom. Jadi, tidak perlu harus bertemu langsung. 

Perihal sahabat antarpemimpin negara ini memang agak rumit juga. Harus ada kesetaraan kekuatan politik dan ekonomi. Jika pemimpin negara lemah, biasanya, meski sudah sering bertemu dengan presiden negara maju, tetap.saja tidak dianggap sahabat, melainkan bawahan.

Karena dianggap bawahan, tentu saja hubungan yang ada bukanlah hubungan antaraahabat, melainkan hubungan antara majikan dan anak buah. 

Presiden lemah (rendahan) harus tunduk dan patuh kepada presiden negara kuat (maju). Jika presiden kuat memanggil presiden lemah, maka si lemah ini harus datang. Tidak boleh tidak datang. Alhasil, pengeluaran negara yang dipimpin presiden lemah pun membengkak.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut di atas, idealnya presiden rendahan memfokuskan diri pada peningkatan kemajuan negara yang dipimpinnya. Setelah maju, barulah mencoba menjalin persahabatan dengan para pemimpin negara maju (kuat).

Wednesday, June 10, 2026

Memecat Dirinya Adalah Pilihan Tepat Waktu itu

Ilustrasi: Pixabay 

"Kamu denger ga kemarin bapak itu bilang kalau dirinya pengen jadi presiden sejak tahun 1990-an?"

"Iya. Katanya sejak tahun tersebut pemerintahan negara kita salah arah. Itulah sebabnya, beliau ingin jadi presiden."

"Bener banget. Aku jadi ingat perkataan beliau saat diwawancarai media asing pada pertengahan tahun '90an."

"Oh yang beliau bilang bahwa mertuanya sudah tua itu, 'kan?"

"Yes bener banget. Aku ingat betul beliau juga bilang ke wartawan tersebut mertuanya tidak pernah ikut pelatihan militer di luar negeri. Dengan kata lain kurang wawasan yang luas."

"Iya, aku juga masih ingat kok. Bahkan, katanya harus segera diganti."

"Dari kedua perkataan bapak itu pada masa yang berbeda tersebut ternyata membuatku paham bahwasanya beliau sudah mengincar jabatan sang mertua sejak lama."

"Aku yakin ketika mertuanya lengser.yang kemudian digantikan wakilnya, adalah angin segar bagi bapak itu. Rencana beliau pun terus bergulir dengan mengumpulkan tentara dari setiap daerah di ibukota untuk melakukan kudeta militer."

"Dan sebelum terwujud, rencana licik beliau dapat dibaca oleh orang lain. Dari orang lain itulah, presiden pengganti sang mertua langsung melepaskan jabatan beliau agar tidak bisa lagi memerintahkan para tentara untuk melakukan kudeta."

"Tak lama kemudian, beliau juga dipecat secara tidak hormat."

"Sebegitu ngerinya ya dunia perpolitikan di negara kita?"

"Ya. Meskipun demikian, aku masih berharap Negara Republik Surga Segar Raya ini tetap bertahan selama mungkin."

***


Tak Perlu Menunggu 2045

Ilustrasi: Pixabay 

"Terkadang manusia terlalu senang berangan-angan."

"Padahal panjang angan-angan tidak terlalu baik juga. Lebih baik, misalnya, gunakanlah waktu luang sebelum datang waktu sempit dan gunakanlah waktu sehat sebelum sakit."

"Ya, lebih baik kita nikmati saja prosesnya dengan bekerja sungguh-sungguh sejak sekarang atau sebelumnya. Tidak perlu menunggu waktu yang akan datang."

"Eh, ini membahas apa sebenarnya kok kita malah ngomongin angan-angan?"

"Itu, soal pidato presiden negara tetangga kita. Kata beliau, negara mereka akan menjadi negara maju keempat di dunia pada tahun 2045."

"Owh itu. Iya, aku juga dengar presiden mereka berpidato demikian. Nomor satu Cina, lalu Amerika Serikat, kemudian India, setelah itu baru negara mereka."

"Beliau terkesan begitu sombong. Padahal belum tentu akan terwujud."

"Yang jelas hal itu bukanlah kuasa manusia. Sebab, segala sesuatu hanya terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya."

"Jujur, aku sampai terkejut lho mendengarkan perkataan beliau tersebut. Mengapa seberani itu, pikirku."

"Beliau sudah berlaku bak Tuhan."

"Semoga kita dihindarkan dari sifat sombong seperti itu."

"Mengapa tiba -tiba aku teringat Mustafa Kemal Ataturk ya?

***

Tuesday, June 9, 2026

Presiden ATAUKAH Bos Preman?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Dulu, dulu sekali berdiri sebuah negara bernama Kadalin. Dilihat dari luas wilayah dan kekayaan alamnya, seharusnya negara tersebut kaya raya dalam hal keuangan. Akan tetapi, dari tahun ke tahun bukannya kian maju, negeri yang dikenal dengan buah belimbingnya itu malah semakin amburadul perekonomiannya. Ya, terutama pada era Presiden Paranormal Sebangsa. 

Meskipun dirinya berlatar sipil, tapi tindakan-tindakannya sangat keras. Agaknya kedekatan dirinya dengan dunia malam membuat sosoknya terkesan mirip seorang bos preman. Hampir setiap malam ia mabuk di "klub-klub bahagia" bersama pacar lelakinya. 

Benar, pria gagah itu sejatinya adalah seorang homoseksual. Tapi, rakyat lebih menyoroti ketidakmampuannya mengurus negara daripada orientasi seknya tersebut. Rakyat benar-benar menginginkan dirinya bijak dalam mengambil segala keputusan. 

Akan tetapi, setiap masukan dari rakyat, khususnya para pengamat yang ahli di bidang masing-masing selalu ditolaknya. Bahkan, dirinya tak segan melukai rakyatnya sendiri. Hal terakhir ini ia lakukan kepada salah seorang aktivis pencinta batu permata. Dengan menggunakan tangan bawahannya, aktivis itu mendapatkan lemparan banyak batu hingga kondisinya kritis dan ditangani dokter ahli.

Presiden lanjut usia itu juga mengancam akan memenjarakan para demonstran yang menyuarakan kritik dan tuntutan terkait dirinya. Sementara saat nilai mata uang negaranya hancur, dengan mudahnya dirinya mengusulkan kenaikan pajak rakyat. 

Dan, tentu saja banyak pihak bertanya-tanya, sebenarnya ia seorang presiden ataukan bos preman.


Sunday, June 7, 2026

Sekolah Rakyat Itu Tidak Perlu Ada

 

Ilustrasi: Pixabay 

"Dengan utang yang banyak, negara kita tidak bisa disebut sebagai negara kaya."

"Betul. Yaaa presiden kita saja yang halu. Dalam otak tuanya negara kita kaya raya. Padahal utang kian mendekati puncak Everest."

"Aaaaah, bagaimana tidak meninggi, dianya saja jalan-jalan terus ke luar negeri? Membuat banyak satuan tugas bergaji besar. Sok-sokan ngasih makan gratis pula. Terus dia juga memboroskan uang hasil pajak dan ngutang tersebut buat program-program lainnya semisal sekolah rakyat. Alasannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.'

"Betul. Padahal cukup dengan menggratiskan biaya sekolah bagi anak-anak tidak mampu di sekolah yang sudah ada. Ini malah membangun sekolahan baru. Itu sungguh menelan biaya yang sangat besar."

"Benar kata pujangga Merah Saga bahwa apalah artinya punya sumberdaya alam melimpah, tapi masih ngutang kepada pihak asing."

"Dan, juga perkataan penyanyi pop Nangka Lezat bahwa negara akan miskin selamanya jika sumber daya manusianya diabaikan."

"Ya itulah kenyataan yang aneh bin ajaib. Sekarang sok sibuk ingin mencerdaskan anak bangsa, eh orang-orang cerdas malah tidak dipakai. Ada berapa banyak penemuan berharga anak bangsa yang disia-siakan hingga dihargai negara-negara lain."

"Orang-orang cerdas juga saat ini dianggap sebagai musuhnya. Sampai-sampai dia menegaskan akan menertibkan para pengamat yang sejatinya merupakan orang-orang cerdas."

"Beginilah cerita menyedihkan di Negara Rintihan Debu. Rakyat bisa apa? Demonstrasi? Melakukan pemberontakan? Atau apa? Ah!"

"Puyeng!"

***

Bangsa yang Lemah, Takut Dolar Naik!

Foto: Pixabay 

"Ah, janganlah kamu berkata seperti itu, Wo!"

"Mengapa? Bukankah betul kenyataannya demikian?"

"Itu akan membuat rakyatmu sedih."

"Sedih? Ha ha ha. Paman terlalu lebay!"

"Dengarkan dulu perkataanku. Tidak semua rakyat itu sekaya dirimu. Masih banyak dari mereka yang hidup pas-pasan, bahkan harus ngutang demi bisa hidup."

"Lha apa hubungannya dengan kemiskinan?"

"Ya tentu ada lah, Wo! Kamu pikir saja sendiri, mereka, dengan kemiskinan akut seperti itu akan tambah terbebani dengan dolar yang kian tinggi nilainya."

"Mereka, 'kan ga konsumsi dolar?'

"Wo, Wooo. Dengan naiknya dolar, barang-barang yang diimpor pasti naik harganya. Satu saja harga barang naik, harga semuanya termasuk jasa juga ikutan naik. Apalagi kalau yang diimpor berupa bahan mentah, kalau sudah menjadi barang siap pakai, harganya pasti naik tajam. Jadi, ini bukan perkara bangsa yang takut, melainkan kesejahteraan rakyatmu."

Raja Wojambi pun terlihat memahami kondisi yang sedang terjadi saat ini. 

"Aku harap, kamu segera bertindak untuk memperkuat nilai mata uang negara kita. Bekerjalah untuk rakyat. Jangan kecewakan mereka!"

Tak lama kemudian, setelah Pangeran Moko menepuk pundak keponakannya itu, ia pun melangkah menuju ruang baca istana. 

***

Friday, June 5, 2026

Pemerintah Melawan Negara?

Ilustrasi: Pixabay 

Itu mustahil. Mengapa? Karena, negara bukanlah makhluk hidup. Jadi tidak mungkin dilawan. Secara ringkas, negara merupakan wilayah dan sistem hukum berdaulat yang melindungi sejumlah manusia atau masyarakat yang lazim disebut rakyat. 

Nah beda lagi ceritanya kalau yang dilawan adalah rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara. Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca sebuah kalimat seru, "Jangan jadikan rakyat sebagai musuh kalian (pemerintah)!" 

Begitulah yang sering terjadi. Rakyat dijadikan musuh pemerintah. 

Itu pun bisa terjadi jika pemerintah yang sejatinya sebagai pengelola negara dan pelayan rakyat, tidak lagi berlaku demikian. Ya, bukannya bekerja maksimal untuk menyejahterakan rakyat, malah mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga, rakyat bereaksi atas ketidakbenaran pemerintah tersebut. Rakyat mulai turun di jalan-jalan hingga yang paling ekstrem, yakni pemberontakan.

Dan, reaksi apa pun oleh masyarakat tidak bisa dikategorikan sebagai bentuk kesalahan. Mengapa? Karena rakyat memegang kekuasaan tertinggi. Rakyat yang membiayai jalannya roda pemerintahan melalui pajak. Tanpa rakyat, negara tidak akan eksis. 

Benar, saat rakyat membeli makanan saja dikenai pajak, jadi wajar rakyat bereaksi seperti itu. Dalam hal ini pemerintah yang salah dan harus diingatkan. Pemerintah wajib tahu diri. Makan dari uang rakyat seharusnya benar-benar melayani rakyat! Bukan malah menjadikan rakyat sebagai musuh mereka.