![]() |
| Ilustrasi: Pixabay |
Kalau bicara, dirinya selalu saja menyuarakan yang muluk-muluk, tapi kosong. Ya, kata-katanya hanyalah omong kosong belaka. Ia dijuluki oleh sebagian besar rakyatnya sebagai si Omon-Omon pengingkar janji.
Benar, ia adalah seorang presiden di Republik Gemoyan. Saat kampanye politik menjelang pemilihan presiden, dirinya banyak berjanji. Sebutlah contohnya kesehatan gratis, pendidikan gratis, dan bahan bakar minyak murah. Tapi nyatanya, setelah menjadi presiden, dirinya termasuk pemimpin negara pembohong kepada rakyat di negara yang dipimpinnya.
Sejatinya ia lebih fokus pada kesejahteraan dirinya dan para penjilat di sekitarnya. Program-program yang ia jalankan selalu saja tidak berpihak kepada rakyat.
Alih-alih bertindak untuk kemakmuran rakyat seperti omongan besarnya, setiap hari dirinya kian menyiksa rakyatnya sendiri. Hal itu begitu terasa dengan perluasan pajak. Para penjual daring dan pelaku UMKM, misalnya, sangat merasakan pemalakan olehnya yang dikenal dengan pajak.
Singkat kata, jargon terselebungnya dalam memimpin negara adalah, PAJAK, PAJAK, PAJAK di balik omon-omon mulut besarnya.














