Thursday, April 30, 2026

Presiden Tukang Fitnah, Rakyat Jadi Korban

Ilustrasi: Pixabay

Rakyat yang pintar menjadi sasaran presiden tukang fitnah? Itu wajar karena memang bagian upaya mempertahankan kekuasaannya sebagai kepala negara. Rakyat yang dikategorikan pintar di sini ialah kaum intelektual dengan daya kekritisan tingkat tinggi. 

Dengan otak mereka yang unggul, kritik membangun kepada pemerintah lahir satu demi satu. Dan, hal ini sebenarnya normal. Namanya saja presiden pasti tidak selalu benar, 'kan? Selama dirinya masih merupakan manusia, pastilah memiliki kekurangan. Itulah sebabnya, ada saling mengingatkan. Salah satunya dengan kritik tersebut. 

Yang menjadi masalah, "ada presiden" dari Republik Gem Aw (sekitar dua ribu tahun lalu) merasa paling benar, paling jago, paling segalanya. Mungkin dirinya sadar atau tidak sudah merasa seperti Tuhan. Orang lain sepintar apa pun tidak boleh mengkritiknya. Semua rakyat harus mendukungnya secara penuh. 

Padahal, keputusan-keputusannya tidak didasari dengani studi yang mendalam terlebih dahulu. Sebutlah contohnya pendirian usaha dagang baru. Tanpa mempelajari dan "mengujicobakan" terlebih dahulu dalam jumlah kecil, dirinya langsung membangun puluhan ribu unit usaha tersebut. Dalam hal ini ia belum tahu apakah usaha yang dibangunnya memang menguntungkan negara atau malah sebaliknya. 

Contoh lain, dengan tergesa-gesa ia menggenjot penggantian atap rumah, yakni dengan atap baru yang seragam untuk meciptakan keindahan. Sebelum menggenjot program itu, dirinya belum memperhitungkan secara matang dampak buruk dari besarnya biaya yang dikeluarkan. Terlebih, jika dikaitkan dengan kondisi keuangan negaranya yang saat itu sedang defisit anggaran. Ujung-ujungnya rakyat ditekan untuk membayar pajak. 

Sedang kaum intelektual yang kritis terus ia sudutkan dengan fitnah "menyerang pemerintah". Bahkan ia ancam mereka dengan keji. Misalnya, dirinya "mengusir" rakyatnya yang pintar dan kritis itu dengan kata- kata "kabur sana" dari negara tersebut. Apa wewenangnya mengusir seperti itu? Presiden harusnya tunduk kepada rakyat. Dirinya digaji rakyat. Ia bawahan rakyat. Tapi, sok-sokan mengusir para majikannya sendiri. Ini sungguh keji. Benar-benar di luar batas. Rakyat menjadi korban oleh kekejiannya. 

Membaca cerita fiksi di atas, kita patut beruntung bahwa di dunia ini tidak. ada presiden yang demikian. Seandainya ada, gawat! 


Rakyatku Keracunan, Aku Bahagia dan Bangga

Ilustrasi: Pixabay

Dalam sebuah forum internasional, dirinya begitu bangga dengan program susu gratis ibu hamil (SUGIH). Dengan wajah berapi-api dan memukuli meja mimbar podium, dia mengatakan bahwa banyak negara meniru programnya itu. 

Dan, setelah sempat menyinggahi beberapa negara maju, ia pulang ke negaranya. Dirinya tampak puas. Tak berapa lama kemudian, ia kumpulkan para pendukungnya di sebuah forum negara. Di sana dia berpidato. Wajah tuanya terlihat sehat. Kata-katanya segera keluar lancar dan seperti kebiasaannya, kedua tangannya tak pernah absen memukuli meja mimbar podium sambil mengklaim program utamanya, yakni SUGIH berhasil. 

Padahal, selain menelan anggaran belanja negara yang sangat besar, di lapangan banyak ibu-ibu hamil keracunan setelah meminum susu gratis tersebut. Bahkan, yang berujung dengan meninggal dunia pun sudah tak terhitung jumlahnya. 

Tapi, sebaga presiden, dirinya tak pernah berempati terhadap para korban itu. Ia tetap bersikeras bahwa SUGIH yang terbaik. Siapa saja yang mengkritik programnya itu dianggapnya musuh besar negara. Dalam sebuah kesempatan, mulutnya pernah mengeluarkan sebuah kalimat kotor, "Kalau tidak setuju dengan SUGIH, kabur saja, tinggalkan negara ini!"

Sebenarnya bukan hanya masuk kategori kalimat kotor, tetapi juga antikemanusiaan. Sudah jelas para kaum intelektual memberikan masukan agar tidak terjadi lagi kematian akibat keracunan SUGIH, malah dicap musuh negara. Parahnya, dengan bahagianya dirinya terus saja membangga-banggakan program pembunuhan massal tersebut. 

Sungguh dirinya adalah presiden keji yang amoral. Untungnya dirinya hanyakah tokoh fiksi. Seandainya benar-benar nyata, wah sudah dipastikan rakyat di negara yang dipimpinnya akan sengsara. 

Wednesday, April 29, 2026

Penjajah Mengasingkan Pejuang ke Yordania

Foto: Pixabay

Mengapa penjajah gemar mengasingkan pejuang? Salah satu jawabannya adalah karena mereka tidak suka diganggu. Ya, para pejuang selalu saja dianggap pengganggu dan pembuat gaduh oleh penjajah. 

Sebutlah salah satu contohnya Soekarno yang diasingkan di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tentang waktu antara tahun 1934--1938. Intinya, pihak penjajah menginginkan rakyat jajahan nurut, tunduk, patuh, tidak melawan, dan kalau perlu seperti robot yang dengan mudah mereka kontrol. 

Jika ada rakyat cerdas yang melawan, sudah dipastikan akan menjadi musuh bagi penjajah. Hidupnya tidak aman. Sebab, akan diburu, ditangkap, dan disiksa, lalu diasingkan. Bahkan, bisa saja dihukum mati. 

Khusus kasus terakhir di atas, contohnya Panglima Batur dan Demang Lehman di Kalimantan Selatan yang dihukum mati oleh penjajah Belanda. 

Jika di era kekinian masih ada pemerintah yang gemar mengatakan hal berbau pengasingan ke luar negeri bagi orang-orang cerdas, maka sudah dipastikan pemerintah itu merupakan penjajah. Mungkin dalam hal ini terkesan seperti Israel yang menjajah Bangsa Palestina. 

Nah, tentu saja yang dimaksud orang-orang cerdas di era kekinian ialah kaum intelektual yang melihat kondisi nyata di lapangan dan menyuarakannya berdasarkan keilmuan mereka. Kemudian, suara mereka dinilai mengancam kekuasaan pemerintah yang bersangkutan. 

Orang-orang seperti ini sudah barang tentu dimusuhi pemerintah dan diserukan untuk kabur saja ke luar negeri sebagai bentuk pengasingan. Misalnya, kabur saja ke Yordania atau ke Israel. Selain seruan-seruan tak beradab tersebut, biasanya pemerintah penjajah akan membuat hidup orang-orang cerdas sengsara. Bisa jadi mereka dipenjara, disiksa, atau dibuat cacat permanen agar jera dengan asam sulfat. 


Tuesday, April 28, 2026

Wanita di Tengah, Posisi Kecelakaan Pasti di Belakang?

Ilustrasi: Pixabay

Gerbong belakang ditabrak kereta lain. Itu yang terjadi beberapa waktu lalu. Ya, tragedi kecelakaan kereta di Indonesia tersebut sungguh memilukan. Dan, salah seorang menteri mengusulkan gerbong wanita dipindah di bagian tengah kereta. 

Usulan tersebut menimbulkan tanda tanya lucu. Apakah lokasi kecelakaan bisa diatur? Misalnya, kecelakaan hari ini khusus di gerbong depan. Lalu minggu depan di gerbong belakang. Bulan berikutnya di posisi depan. Apakah seperti itu? Tentu jawabnya tidak. 

Kecelakaan terjadi begitu cepat. Tidak bisa diprediksi. Jangankan diprediksi, diharapkan saja tidak. Kemudian juga apakah posisi bagian yang terdampak kecelakaan akan tetap sama? Selamanya akan menimpa gerbong belakang secara terus-menerus? 

Idealnya, usulan itu bukan berfokus pada posisi, melainkan sistem keselamatan perkeretaapian di Indonesia. Sebagai negara yang telah lama berkecimpung di dunia rel, seharusnya keselamatan sudah menjadi hal utama yang secara kontinyu diperhatikan. Keselamatan penumpang, baik wanita, maupun pria, harus menjadi prioritas. Terlebih jika sudah menyangkut nyawa. Perbedaan jenis kelamin harus ditiadakan. Semua penumpang adalah sama. Yang tidak boleh dilupakan juga adalah, seandainya gerbong wanita di tengah aman, apakah suami dan anak laki-laki mereka yang tewas di gerbong belakang tidak membuat para wanita kehilangan? 

 

Reshuffle Kabinet hanya Akal-akalan

Ilustrasi: Pixabay

Jika ditanya akal-akalan siapa? Tentu jawabnya adalah presiden. Selama pemerintahannya berjalan, sudah terjadi reshuffle kabinet sebanyak tujuh kali. Waw! Angka yang tergolong banyak untuk tindakan presiden dalam mengganti, memindahkan, atau memberhentikan sebagian menteri dalam kabinetnya. Pada setiap pidato kebangsaan, sang presiden selalu saja mengutarakan bahwa hal itu untuk meningkatkan kinerja pemerintahannya. 

Padahal, tidak ada istilah "menteri yang mandiri dalam inovasi dan lainnya" dalam kabinet gemuknya tersebut. Sebab, dirinya lah yang berkehendak dan semua menteri hanyalah pembantu dalam merealisasikan segala kehendaknya tersebut. 

Dengan kata lain, siapa pun menterinya, mereka harus bekerja sesuai kehendak Presiden Kac Am Ata di Republik Salin Raya. Itu. Contohnya ketika sang presiden ingin kas semua tempat ibadah dikelola Kementerian Spritual melalui rekening bersama, maka orang yang menjadi menteri di kementerian ini dengan cepat menyuarakannya kepada semua pengelola tempat ibadah. Dan, masyarakat tahunya si menteri itulah yang menggagasnya. Jika kehendak itu dikritik, sang presiden berlepas tangan dan berkata, "Saya keget karena baru tahu ada rencana seperti itu." 

Pertanyaannya, jika demikian, untuk apa ada reshuffle kabinet? Jawabnya sederhana, yakni. sebagai akal-akalan presiden agar masyarakat mengira bahwa yang tidak kompeten adalah menteri-menterinya. Sedang dirinya teelihat bekerja keras. Salah satunya ialah dengan reshuffle kabinet sehingga sang presiden selalu mendapatkan pujian setinggi langit.


Monday, April 27, 2026

Bagaimana jika Iran Kalah?

Foto: Pixabay

Perang Iran versus Amerika Serikat + Israel belumlah usai. Masing-masing pihak masih dalam kondisi prima. Terlebih pascagencatan senjata beberapa waktu lalu. Dari sudut kacamata sederhana, Iran bisa dikatakan sebagai pihak dengan kekuatan di bawah Amerika Serikat. Apalagi ditambah kekuatan Israel, tentu saja Iran diprediksi akan kalah. 

Ya, cepat atau lambat kekalahan itu akan dialami Iran. Pertanyaannya, bagaimana seandainya Iran sudah kalah? 

Jawaban paling mencolok ialah Timur Tengah akan dikuasai secara mutlak oleh Amerika Serikat dan Israel. Kok? Bukankah di sana masih ada Turkiye dengan kekuatan yang besar? Bahkan, bisa dikatakan Turkiye merupakan kekuatan global yang tidak bisa diremehkan. Betul, faktanya memang demikian. Akan tetapi, negeri di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan itu belum bisa sepenuhnya lepas dari jeratan Amerika Serikat dan Israel. 

Lihatlah betapa Turkiye berkehendak memiliki F-35. Pesawat F-16 varian terbaru pun masih dibeli republik yang didirikan Mustafa Kemal Attaturk itu selama KAAN belum 100% mengudara bebas. Dari sisi bisnis pun, Turkiye belum mau melepaskan diri dari Israel, yakni di bidang energi. 

Nah, Itu jika Iran kalah. Lantas bagaimana kalau dilihat lebih dalam lagi? Iran sebenarnya merupakan negara superpower, baik dari sisi militer, maupun sisi-sisi lainnya. Buktinya hingga detik ini Amerika Serikat dan Israel belum mampu menguasai Iran. Dalam rekam jejaknya, Amerika Serikat sebenarnya juga pernah berperang melawan negeri Syi'ah tersebut. Kapan? Itu terjadi ketika Iran melawan Irak. Amerika Serikat berada di pihak Irak, tapi selama delapan tahun peperangan, Iran tetap tak terkalahkan. 

Agaknya, perang melawan Iran jika diteruskan akan berkepanjangan, kecuali pihak Amerika Serikat dan Israel menyudahinya secara damai. Akankah? 


Kipandjikusmin: Ternyata Kian Mendung Ajah!

 

Ilustrasi: Pixabay

"Min! Ngapain loe duduk di situ?"

"Udah tau guwa duduk, masih nanya ajah."

"Nggak gitu juga, maksud guwa ngapain loe duduk di situ?"

"Ya, duduk lah. Emang ngapain lagi?"

"Ya elah, Min. Ribet banget. Okey, guwa cancel ajah pertanyaan barusan."

"Terus loe mo ngapain di sini kalo nggak nanya?"

"Ngadem!"

"Emang di sini lemari es apa? Pake ngadem segala."

"Hayaaaah! Di sini surga tau. Makanya enak buat ngadem."

"Tapi, bentar lagi surga di sini akan segera hilang."

"Hilang? Maksud loe?"

"Pihak perusahaan bakal nambang di sini. Pohon-pohon dan lainnya bakal tak ada lagi. Guwa beserta keluarga wajib ngosongin ni rumah. Paling lama besok. Oh, dunia kian mendung ajah!"

"OMG! Guwa turut prihatin."

"Makasih udah peduli."

"Btw, udah dapat tempat baru?"

Kusmin menggeleng. 

Iblis di depannya terdiam. 

Sedang angin sendalu dari timur sibuk mempermainkan rambut mereka. Ya, begitulah siang itu. Sebuah fenomena kekinian yang kian menuju kehancuran. Area yang sebenarnya subur akan segera ditelan keserakahan manusia-manusia rakus. 

***