Thursday, June 18, 2026

Demonstran Tandingan? Piala Dunia Ya?

Ilustrasi: Pixabay 

Ini benar-benar seperti gelaran akbar sepak bola piala dunia. Kesebelasan-kesebelasan besar saling sikat memperebutkan piala rutin empat tahun sekali.

Anehnya, kesebelasan yang didukung pemerintah selalu kalah. Padahal mereka mendapatkan dukungan dana yang luar biasa. Bahkan, mereka tidak mendapatkan "gangguan" dari aparat keamanan. Waaaah! Kok bisa? 

Agaknya hal itu dikarenakan kurangnya pendidikan dan pengajaran dari pemerintah kepada mereka. Maklum, massa kesebelasan karbitan memang selalu demikian. Sedang para demonstran sejati.yang tidak dibayar adalah para pahlawan yang terlatih di medan pertempuran.

Dan kalau dipikir-pikir, menyediakan massa demonstran atau kesebelasan karbitan sangatlah merugikan dari sisi keuangan negara yang didapatkan dari pajak rakyat. Uang dari keringat rakyat mereka hambur-hamburkan untuk hal yang sungguh tidak bermanfaat. Ya, tidak bermanfaat bagi mereka (kalah di pertempuran) dan tidak bermanfaat bagi rakyat.

Agaknya sudah saatnya para politikus sadar bahwa ini adalah dunia. Semua akan berakhir seiring habisnya jatah kehidupan masing-masing di alam yang fana ini Jadi, ayolah bekerja untuk rakyat. Benar, untuk rakyat. Untuk rakyat!


Wednesday, June 17, 2026

Menuju Tiananmen, Prabowo Batal ke Rusia

 

Ilustrasi: Pixabay 

Aaaaah, emang benar begitu? Tiananmen itu ada di Republik Rakyat Cina. Jauh dari Indonesia. Dalam peta, daerahnya terlihat ada di Utara atau bagian atas Jamrud Khatulistiwa. Menuju ke sana, sungguh melelahkan. Terlebih kalau harus berjalan kaki. 

Meskipun demikian, akhir-akhir ini arah reaksi massa di Indonesia menuju ke sana. Benarkah? 

Ringkasnya, pada tahun 1989 terjadi demonstrasi besar-besaran di Tiananmen. Walaupun disangkal-sangkal, kenyataannya tindakan aparat Cina Daratan itu benar-benar keras. Konon, banyak sekali demonstran yang meregang nyawa. Alhasil, rezim komunis era Deng Xiaoping tetap aman. Pemerintah di sana terus berjaya.

Nah, kalau demikian, untuk apa demonstrasi di Indonesia ditakuti pemerintah? Eh, bener ya ditakuti? Ga kales! 

Atau, sebenarnya malah mirip Gerakan Demokrasi Juni yang terjadi tahun 1987 di Korea Selatan? Gelombang massa nasional ini sukses membuat rezim militer Chun Doo-hwan  mengadakan pemilu demokratis dan mengakhiri kekuasaan tangan besi di Negeri Ginseng itu.

Lalu bagaimana sejatinya yang sedang terjadi di negara kita? Apa pun model gerakan demonstrasi yang ada, idealnya tak perlu disikapi berlebihan, termasuk yang kata banyak pihak, menyebabkan Presiden Prabowo "batal" ke Rusia. Caranya cukup dengarkan, pahami, dan lakukan sesuai tuntutan para demonstran. Mudah, 'kan? 

Tuesday, June 16, 2026

Demo Santun untuk Meninabobokan Presiden

 

Ilustrasi: Pixabay 

Pagi-pagi sekali seorang menteri berujar kepada calon demonstran, "Santunlah saat berdemonstrasi seperti angin sepoi-sepoi yang menjatuhkan sang kera jantan."

Perkataannya pun segera diamini banyak pihak. Dalam sejarahnya, kera memang pernah jatuh oleh angin sepoi-sepoi. Ya, sang kera hebat yang diembusi angin tersebut mulai mengantuk. Tak lama setelahnya ia pun tertidur dan akhirnya terjatuh dari atas singgasananya. 

Hal itu pula yang sebenarnya diembuskan oleh para menteri dan lainnya kepada sang presiden. Istilah lain dari santun di kalangan mereka adalah, Asal Bapak Senang atau disingkat ABS. Dan, para demonstran ikut-ikutan bersuara santun pula saat berunjuk rasa di depan istana presiden.

Salah seorang perwakilan mereka bersuara merdu dan santun, "Wahai Bapak Presiden yang ganteng, dengarkanlah nyanyian kami. Bahan bakar minyak yang dingin, merangkak naik dari aspal menuju trotoar, median jalan, dan juga jembatan ke jembatan. Kenaikannya sungguh mengiris dada kami. Bagaimana tidak? Lembar-lembar uang kami menjadi kian menipis. Sementara harga-harga kebutuhan sehari-hari juga ikutan naik dari anak tangga satu ke anak tangga berikutnya. Oooooh Bapak Presiden kami yang gagah, dengarkanlah, dengarkanlah, dengarkanlah jeritan kami."

Orator lainnya tak kalah santunnya, "Pernahkah Bapak Presiden yang berkulit bersih dan bersuara merdu memikirkan hasil program-program yang sudah dijalankan selama ini? Roda-rodanya banyak yang bengkok. Jalannya bergoyang-goyang. Sebutlah program menikmati nasi hangat, lauk gurih, dan sayuran segar, banyak sekali menelan anggaran negara. Termasuk anggaran untuk kemakmuran rakyat dipotong untuk program itu. Kami yang kecil dan lemah ini meminta kepada Bapak Presiden yang perkasa dengan otot besar untuk segera menghentikan jalannya program tersebut."

Pada demonstrasi pertama ini, sang presiden mulai bereaksi di balik gedung istana berupa kata-kata sederhana, "Akan saya perhatikan." Melihat fenomena yang demikian, para mahasiswa dan juga pihak-pihak lain yang sebelumnya tak turun ke jalan, akhirnya tersentuh dan berniat ikut berdemonstrasi. 

Jumlah para demonstran pada demonstrasi yang kedua meningkatkan drastis. Kata-kata indah yang santun menelusup ke celah-celah  dinding-dinding istana negara. Suara santun mereka membuat sang presiden terenyuh dan menangis tersedu-sedu.

"Baiklah, baiklah, baiklah, saya akan menyuntikkan subsidi bahan bakar minyak dan juga menghentikan program nasi hangat, lauk gurih, dan sayuran segar."

Para demonstran langsung menyambut kata-kata sang presiden dengan penuh haru. 


Mengapa Presiden Tidak Prorakyat?

 

Ilustrasi: Pixabay 

Sebenarnya kata "presiden" sekadar istilah yang mewakili makna pemimpin negara. Seperti yang kita tahu, ada yang namanya sultan, raja, dan lainnya. Tapi, dalam hal ini cukuplah satu istilah yang kita pakai. Ya, presiden sebagai jabatan yang diincar para ambisius di bidang politik.

Dalam perjalanan sejarah perpolitikan, bisa dikatakan banyak presiden yang tidak prorakyat. Nah, dari sana muncullah sebuah pertanyaan mendasar, mengapa demikian?

Jika pertanyaan itu muncul, maka agaknya yang pertama lahir dalam pikiran banyak orang sebagai reaksinya adalah, karena presiden memikirkan ego yang belum bisa ia kendalikan. Lihatlah hingga sekarang masih saja ada aktivitas kenegaraan yang memakai istilah presiden. Sebutlah misalnya, kurban presiden, bantuan presiden, yang kesemuanya untuk mendapatkan pujian sang presiden. Padahal masih menggunakan uang rakyat.

Atau, contoh lainnya berupa program-program yang dibuat berdasarkan keinginan presiden dan bukan berangkat dari situasi dan kondisi rakyat. 

Nah, bagian terakhir di atas sebenarnya bisa juga atas perintah para pemodal. Benar, dalam negara yang katanya berasaskan demokrasi, pada kenyataannya malah berasaskan kepentingan para pemodal, yakni para pengusaha yang memodali calon presiden hingga menjadi presiden. Ini tentu menjadi sebab munculnya segala program presiden. Artinya, program-program yang dijalankan hanya untuk kepentingan orang-orang kaya raya tersebut. 

Masih sejurus dengan paragraf yang baru saja kita tinggalkan, selain para pemodal, kepentingan dapat saja datang dari asing. Maksudnya dari para pemimpin atau satu pemimpin negara adikuasa. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, untuk mewujudkan ambisinya sebagai presiden, seorang politikus meminta dukungan dari luar negaranya. Dan setelah dirinya menjadi presiden, maka ia pun tunduk dan patuh kepada para presiden atau satu saja presiden dari negara adikuasa itu. 

Oleh karenanya, jangan heran kebanyakan presiden tidak prorakyat. 

Sunday, June 14, 2026

Pujian di Luar Batas kepada Presiden

Ilustrasi: Pixabay 

Haruskah itu dilakukan? Jika demi jabatan, tentu wajib dilakukan. Sebab, seandainya tidak, bagi para pejabat, jabatan mereka bisa melayang. 

Nah, bagi yang belum menjadi pejabat, hal itu sangat bagus untuk mendapatkan jabatan. Minimal kepala satuan tugas.

Pujian tersebut bisa berupa kalimat yang berbunyi, "Presiden kita sangatlah cerdas. IQ beliau lebih tinggi daripada kecerdasan  intelektual Albert Einstein." Atau, "Program  presiden didukung 43 juta murid. Beliau mencontohkannya dalam sehari membaca sebanyak 50 buku nonstop."

Apa pun tanggapan masyarakat, selalu menjadi urusan belakangan bagi ahli memuji jenis ini. Terpenting adalah, presiden yang bersangkutan mengetahui pujian itu. 

Pertanyaannya, mengapa mereka yang gila jabatan bisa seperti itu? Jawabannya mudah, yakni karena presiden yang mereka puji termasuk kategori orang yang gila pujian. Maka, dengan pujian di luar batas tersebut, presiden akan sangat kegirangan dan langsung memberikan jabatan bagi pemuji yang belum menerima jabatan. Dan, seperti tersebut di atas, para pejabat akan terus memangku jabatan mereka dalam waktu yang panjang.


Saturday, June 13, 2026

Pidato Presiden Adalah Keaslian Dirinya

 

Ilustrasi: Pixabay 

Benarkah demikian? Agaknya ini merupakan pertanyaan yang membuat publik berambisi menjawabnya. Ya, selama ini deretan pidato sang presiden yang diluncurkan dengan bantuan pengeras suara memang membuat banyak orang geram. 

Hal terakhir di atas sering ditanggapi dengan kata-kata yang tidak pernah dilontarkan kepada presiden sebelumnya. Sebutlah misalnya, "Jangan kasih dia mic!" dan "Presiden pidato, kiamat kian dekat satu jam." Kalimat-kalimat tersebut sebenarnya bukan sekadar asal keluar atau asal bunyi, tetapi menjadi tanda bahwa masyarakat kebanyakan tidak menyukai gaya dan isi pidato presiden. 

Menurut masyarakat luas--dilihat dari komentar di media sosial--perkataan demi perkataan presiden memang tidak sinkron dengan fakta di lapangan dan terkesan jauh dari kata empati terhadap rakyat. 

Nah, disadari sang presiden atau tidak, sebenarnya pidatonya ialah cerminan dari keaslian dirinya yang dapat ditangkap oleh banyak orang. Ini bukan sekadar pola pikir dan wawasannya, tetapi keseluruhan dirinya. Sebutlah contohnya ketika presiden mengatakan A, tetapi di lapangan B. Ini bukti bahwasanya ia seorang pembohong. Publik pun akhirnya menilai masih pantaskah dirinya tetap menjadi presiden atau tidak. 

Itulah sebabnya, jangan heran jika banyak orang menginginkan sang presiden mundur dari kursi jabatannya. 

Friday, June 12, 2026

Upaya Keselamatan di Kawasan Wisata

Foto: Pixabay 

Ada yang bilang tidak ada yang disalahkan dalam setiap tragedi di tempat wisata. Akan tetapi, hukum kausalitasnya berbunyi, "Tragedi itu terjadi karena tidak adanya peralatan keselamatan dan tim penyelamat' di sana."

Ini tentu menjadi perhatian bersama, termasuk juga para calon pengunjung. Ya, jika di kawasan wisatanya tidak dilengkapi unit keselamatan, lebih baik batalkan atau pastikan untuk sebisanya ekstra berhati--hati. Sebab, jika terjadi kecelakaan semisal Anda terjatuh dari ketinggian, tidak ada bantuan yang datang dengan segera. Anda akan mendapatkan bantuan setelah Tim SAR tiba. Dan, durasinya dari awal Anda terjatuh hingga mereka datang di tempat kejadian bisa mencapai satu jam. Rentang waktu selama itu sangat tidak ideal bagi keselamatan Anda. Bisa-bisa mereka datang saat nyawa Anda sudah melayang.

Itulah sebabnya, di setiap destinasi wisata idealnya dilengkapi peralatan keselamatan dan tim penyelamat. Sebab, jika masih mengandalkan BASARNAS, misalnya, itu pasti memakan waktu yang tidak lah singkat mengingat jarak tempuh dan lainnya. Sementara korban harus segera mendapatkan pertolongan.

Dalam hal ini pemerintah wajib mengadakan pengawasan ketat terhadap adanya kepastian upaya keselamatan tersebut di atas oleh pemilik dan pengelola setiap destinasi wisata yang ada.