Monday, March 16, 2026

Melawan, Berarti Siap Dilawan

Ilustrasi: Pixabay


Air keras yang disiramkan ke dan sampai di tubuh aktivis Kontras, Andrie Yunus, menjadi sorotan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan citra buruk dan akan lebih buruk lagi jika Pemerintah Indonesia tidak serius menyelidikinya. 

Prabowo Subianto memiliki pekerjaan baru selain persoalan MBG dan Iran. Sebagai Presiden Indonesia, dirinya wajib berhasil mengungkap siapa dalang di balik kejahatan kemanusiaan tersebut. 

Sebenarnya mudah saja cara mengungkapnya. Perhatikan saja siapa yang menjadi lawan Andrie. Dirinya bisa dikatakan melawan pihak "tertentu" sebelum dia disiram air keras. Nah, dalang penyiraman itu pastinya adalah pihak yang dia kritisi. Dari sana jelas sangat mudah menangani kasus ini. Singkatnya, aktivis Kontras itu melawan pihak "tertentu" dan dirinya dilawan oleh pihak tersebut. 

Pertanyaannya, beranikah Prabowo Subianto melakukan pengungkapan yang sangat mudah ini? 


Sunday, March 15, 2026

Samakah Kata TERTIBKAN dan BERESKAN?

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika ada seorang kepala negara mengatakan "tertibkan" dalam konteks pembungkaman terhadap para aktivis, bisa berarti sama dengan kata "bereskan". Ini sinyal berbahaya. Mengapa? Sebab, dua kata itu berarti tindakan ganas yang brutal. Hasilnya bisa kematian atau cacat tubuh permanen (kalau bisa selamat). 

Biasanya pemimpin seperti itu kurang menggunakan akal sehat. Kecerdasan emosional dan sosialnya pun sangat rendah. Sedikit-sediikit marah, sedikit-sedikit ingin membunuh. Idealnya, orang yang demikian tidak memiliki kelayakan untuk memimpin sebuah negara. 

Akan tetapi, tentu saja melengserkannya memerlukan tetesan bahkan tumpahan darah. Itulah sebabnya, saat proses pemilihan pemimpin negara, rakyat wajib mengetahui karakter para kandidat calon presiden mereka yang akan "memimpin" pada masa mendatang. 

Memilih pemimpin bukan perkara menerima amplop serangan fajar, melainkan penentuan nasib hari esok. Ya, meskipun kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir, ini merupakan bagian dari usaha yang diwajibkan bagi setiap manusia di dunia. 

Nah, pertanyaannya, bagaimana jika pemimpin arogan yang terpilih? Maka, berhati-hatilah. Salah langkah, bukan hanya soal cacat fisik permanen, tetapi juga nyawa Anda taruhannya. 


Saturday, March 14, 2026

Kami Sakit Tifus, Pak. Kalian Sehat! Titik!

 

Ilustrasi: Pixabay

Begitulah analogi sederhana untuk sebuah negara dengan perekonomian yang tidak baik-baik saja, tetapi dipaksa sang presiden baik-baik saja. 

Aneh? Ya, tentu saja aneh! Ini agaknya mengikuti dunia iklan. Sebutlah orang kena flu, lalu baru saja minum obat langsung sembuh. Singkatnya adalah sebuah kebohongan yang dipaksakan terhadap publik. Dan, jelas sekali mengikuti pepatah menyesatkan, yakni kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran di otak banyak orang. 

Lantas, apakah hal demikian masih berada di jalan kebenaran birokrasi? Pastinya tidak. Langkah-langkah tersebut memang sengaja dibuat dalam rangka menciptakan hiper realitas yang ujungnya menenggelamkan kebenaran dan mengeksiskan imitasi yang pastinya berupa kesalahan atau berkebalikan dari kebenaran. 

Pertanyaan lainnya, mungkinkah teori kebohongan yang dipaksakan ini masih bisa diterapkan? Mungkin, jika itu dilakukan pada zaman masyarakat masih banyak yang belum melek, akan sangat lancar. Akan tetapi, dunia saat ini sudah berbeda. Masyarakat tidak lagi mudah dibohongi. Orang-orang telah berpikir dan mampu membedakan mana yang benar, mana yang tiruan atau palsu. 

Jadi, lebih baik pemerintah di negara mana pun berhenti menipu rakyat. Sebab, di era keterbukaan dengan luasnya jangkauan masyarakat melalui media informasi, kebenaran terpampang nyata. 

Kebiasaan menutupi kebobrokan dengan cara hitam dan otoriter seperti itu oleh pemerintah hanyalah wujud dari kediktatoran jahat. 


Sunday, March 8, 2026

Konversi ke Listrik, Pembangkitnya Tenaga Angin?

Ilustrasi: Pixabay

Jika masih menggunakan batubara sebagai sumber pembangkit tenaga listriknya, itu percuma. Toh ujung-ujungnya tidak ramah lingkungan, melainkan menyenangkan di kantong pengusaha. Ah, kebijakan macam apa ini? 

Idealnya, pemerintah selalu prorakyat. Sebutlah kompor, misalnya. Untuk apa menggunakan kompor listrik kalau rakyat lebih senang menggunakan kompor minyak atau gas? Sebagai pemimpin, entah itu presiden ataupun raja, terpenting adalah menunaikan amanah rakyat sebagai investor negara. Ya, rakyat sebenarnya berinvestasi dengan pajak demi keberlangsungan kehidupan negara. 

Terlebih lagi konversi itu menjadi bencana jika pembangkit tenaga listriknya masih menggunakan batubara. Sebab, akan kian banyaklah penggunaan listrik di negara kita. Dan, secara otomatis semakin rusak pulalah alam akibat penambangan batubara. Ini tidak baik. 

Berbeda ceritanya seumpama pembangkit listriknya menggunakan tenaga angin, air, atau surya. Nah, ketiganya ramah lingkungan. Sayangnya, Indonesia masih menggunakan pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan batu bara sebagai pembangkit listrik utama. 

Jadi, untuk apa konversi ke listrik? 


Thursday, March 5, 2026

Cita-Citaku Memiliki Dapur MBG

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika setiap hari menjual 3.000 porsi dengan keuntungan per porsinya setengah dari harga jual, maka keuntungan pun sangatlah fantastis. Itulah sebabnya, memiliki dapur MBG menjadi cita-cita baru yang sangat didambakan. 

Dapur MBG atau yang popular dengan singkatan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dapat dimiliki oleh orang-orang berduit banyak. Ya, sebutlah mereka elit. Di Sulawesi Selatan, misalnya, gadis berusia 20 tahun sudah memiliki 41 SPPG. Konon, pendapatan per bulannya mencapai 6,5 milyar rupiah. Wow! 

Ini benar-benar ladang bisnis di bidang kuliner. Apakah Anda berminat? 


Sunday, February 22, 2026

MBG Adalah Bisnis Elit Indonesia? Ah! Apa Iya?

Ilustrasi: Pixabay

Serius nanya! Apa benar demikian? Semua pertanyaan beserta jawaban-jawabannya tidaklah penting. Emang untungnya buat kita apa? Mau bisnisnya Presiden Prabowo atau mantan-mantan presiden Indonesia, seperti Megawati, itu urusan di luar kepentingan rakyat. 

Hal yang menjadi sorotan adalah, pertanyaan apakah MBG (makan bergizi gratis) layak dilanjutkan? 

Melihat fakta di lapangan masih ada anak-anak yang putus sekolah, jalan rusak parah untuk dilalui para siswa menuju sekolah, ketersediaan alat tulis siswa yang masih memperihatinkan, dan sebagainya termasuk juga kondisi ekonomi para orang tua siswa yang sebagian masih rapuh, MBG agaknya dihentikan. 

Dengan kata lain, masih ada hal-hal yang lebih utama untuk diselesaikan daripada melanjutkan MBG. Mengenai janji kampanye, rakyat pasti memaklumi jika hal tersebut dihentikan Sang Presiden terpilih. Uang 1,2 trilyun yang dikeluarkan setiap hari sebagai modal MBG lebih ideal disalurkan ke kantong-kantong masalah utama di atas. 

Tapi, apa iya bakal dihentikan?! 


Thursday, February 19, 2026

Ketika Dipuji, Musuh sedang Membuai

 

Ilustrasi: Pixabay

Dalam percaturan dunia, terutama terkait kepentingan elit global, perlu kehati-hatian. Apalagi jika yang memuji sangat terkenal gemar mencari untung. 

Akhir-akhir ini Presiden Prabowo Subianto kerap melakukan kunjungan di luar negeri. Dalam hubungannya dengan hal tersebut, para elit global, seperti Donald Trump tak malu-malu memujinya. Dirinya diperlakukan bak anak emas di dunia internasional. 

Dilihat secara kasat mata, tentu saja itu sangatlah baik. Sebutlah Bill Gates  yang terlibat dalam pendanaan Makan Bergizi Gratis. Akan tetapi, sudahkah pemerintah Indonesia mempelajari trik-trik jitu para elit global ini? 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada. udang di balik batu. Ya, tak ada yang namanya gratis bagi para pengusaha dan politisi raksasa. Ada harga yang harus dibayarkan atas kebaikan mereka. Sebutlah soal Bill Gates tadi, negara kita harus ikhlas menjadi uji coba vaksin buatan perusahaannya. 

Begitu pula dengan kebaikan dan pujian Donald Trump, Indonesia harus ikhlas menyetor uang belasan triliun demi "keamanan" Israel. Padahal kita sangat memerlukan anggaran besar pula untuk memakmurkan seluruh rakyat. 

Mungkin bisa jadi benar perkataan sebagian orang bahwa Presiden Prabowo Subianto sedang menggalang kekuatan barat untuk melawan pengaruh Republik Rakyat China di Indonesia. Terlebih saat duel capres 2029 mendatangkan melawan Gibran atau Kaesang. 

Nah, apa pun itu, yang jelas Indonesia wajib menjaga kedaulatan dari segala tindakan asing. Jangan sampai negara yang kita cintai ini hanya menjadi modal bagi elit global dengan segala kepentingan mereka.