Friday, March 20, 2026

1 Ramadhan dan 1 Syawal Jadi Lahan Keuntungan

Ilustrasi: Pixabay

Perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sebenarnya sudah selesai di Indonesia. Artinya meskipun berbeda penetapan antara Muhamadiyyah dan NU, misalnya, tidak perlu dipermasalahkan. Itu biasa-biasa saja. 

Akan tetapi, belakangan ini hal tersebut diperuncing kembali. Oleh siapa? Tentu yang memiliki kepentingan. 

Kepentingannya macam-macam. Bisa untuk pengalihan kasus, demi konten, dan lainnya. Sebutlah zaman pak Harto dulu santer terdengar bahwa penetapan awal dua bulan itu memang disengaja. Bahkan, beberapa titik pengamatan yang berhasil melihat hilal pun tidak diakui. Pemerintah lebih memilih titik-titik pengamatan yang tidak dapat melihat hilal sehingga terjadi perbedaan 1 Ramadhan dan 1  Syawal. Dengan demikian pemerintah bisa santai "mengerjakan yang lain" tanpa kegaduhan kritik oleh masyarakat. 

Di media sosial juga tidak kalah seru. Banyak akun yang menampilkan perbedaan ini. Tujuannya ya agar mendapatkan tayangan yang banyak. Cuan pun berdatangan. 

Kita tentu perlu bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan mengenai penetapan awal dua bulan tersebut. Singkatnya, beda ya wajar. Untuk apa dipermasalahkan? 



Thursday, March 19, 2026

Toilet Portabel Wajib Ada di Area Publik

Ilustrasi: Pixabay

Toilet portabel tentu mudah dipindahkan dan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan primer. Ya, buang air jelas menjadi hal pokok dalam hidup. Sehari saja tidak melakukannya, apa kata dunia? Yang jelas rasa sangat tidak nyaman menyiksa jiwa dan raga kita. 

Itulah sebabnya, di area publik yang tanpa bangunan gedung permanen, seperti pinggir jalan raya, taman, lapangan, dan  alun-alun wajib disediakan toilet portabel. Jika tidak, masyarakat akan bingung buang air di mana dan ujung-ujungnya di sembarangan tempat. Sebutlah tadi saat saya melintasi salah satu jalan raya. Sebuah mobil mewah berhenti dan seorang pria keluar dari dalamnya lalu buang air di pinggir jalan. 

Kita tentu tidak bisa menyalahkan masyarakat yang sedang kebelet. Hal yang perlu disoroti adalah, penyediaan toilet portabel. Singkat kata, semoga ke depan di Indonesia tersedia toilet seperti itu agar terwujudlah kelegaan jiwa dan raga. 

Board Of Peace Adalah Program Gila

Ilustrasi: Pixabay

Kegilaan Donald Trump agaknya tak jauh berbeda dengan kegilaan presiden-presiden lainnya yang menindas Bangsa Arab Palestina. Mereka mengirimkan persenjataan dan uang segar kepada Israel untuk menyiksa orang-orang di Gaza khususnya. Ya, selebihnya di Tepi Barat dan juga di Yerusalem. 

Bisa dikatakan bahwa Israel merupakan "tukang pukul" mereka. Segala demontrasi yang menyuarakan penghentian serangan Israel tersebut selalu ditekan di negara yang mereka pimpin. Para demonstran selalu mendapatkan kesakitan. Bukan hanya demonstran pria, wanita-wanita penyuara kemanusiaan itu tak luput dari cengkeraman apatrat barat dan Amerika Serikat. 

Lalu, anehnya Donald Trump membentuk Board Of Peace (BOP). Alasannya untuk perdamaian antara Palestina dan Israel. Ini gila! Mana mungkin orang yang memimpin "negara pencipta perang" di Palestina tiba-tiba berlaku demikian? Kalau ingin perdamaian di Gaza, misalnya, maka cukup tekan tombol "HENTIKAN PERANG". Yakni dengan secara tegas memerintah Israel untuk tidak menyerang Palestina dan tidak lagi mengirimkan bantuan militer sekecil apa pun kepada bangsa Zionis itu. SELESAI! 

Dan, yang anehnya lagi, Indonesia turut aktif dalam  BOP. Untungnya apa untuk negeri khatulistiwa ini? Yang ada adalah kerugian karena salah langkah. Sebutlah salah satu kerugian itu seperti, uang Indonesia sebesar 17 trilyun yang tentunya dari pajak rakyat sudah dimanfaatkan Donald Trump untuk hal gilanya itu. Padahal Indonesia masih sangat memerlukan uang. Rakyat masih banyak yang miskin. Tapi, oh! 


Wednesday, March 18, 2026

Pilihan Anda Adalah Trump dan Bangsa Israel

Ilustrasi: Pixabay

Ada yang mengatakan bahwa apa pun yang diminta Trump, maka Prabowo Subianto pasti mengiyakannya. Presiden Amerika Serikat tersebut adalah idola, bahkan majikan yang berkuasa di atas Presiden Indonesia saat ini. Tapi, benarkah demikian? Kemungkinannya tidak. 

Sementara di sisi yang sejurus, konon katanya Prabowo Subianto mengakui penjajah Israel sebagai bangsa yang berdaulat. Yakni, bangsa yang memiliki negara dan harus dijamin keamanannya. 

Seluruh isi paragraf kedua di atas itu pun merupakan perkataan orang saat ngobrol di warung kopi. 

Apa saja yang dikatakan orang, tentu harus dicek kebenarannya. Tetapi, terlepas dari perkara benar atau salah, kita harus jujur dengan diri sendiri berkenaan dengan orang-orang Zionis itu. Ya, faktanya mereka adalah penjajah yang mendapatkan angin segar dari Kerajaan Inggris atau Britania Raya, yakni pada awal pendirian negara Israel di tanah Palestina. Kala itu dengan mudahnya, orang-orang Arab Palestina mengamini apa saja yang diperintahkan Inggris termasuk memberikan izin tinggal kepada orang-orang zionis di tanah mereka yang sudah lepas dari kekuasaan Turki Utsmaniyyah. 

Perlahan, tapi pasti akhirnya Negara Israel berdiri dengan kekuatan besar, yaitu dengan dukungan pihak barat dan Amerika Serikat. Sedang orang-orang Arab Palestina hanyalah korban penipuan Inggris. Mereka ditipu dengan iming-iming kemerdekaan. 

Dengan kata lain, atas bantuan Inggris, mereka sempat memiliki negara berdaulat setelah merdeka dari Kesultanan Turki, tapi.... 

Kemerdekaan itu hanyalah tipuan Inggris untuk bisa memasukkan orang-orang Zionis tanpa halangan dari Sultan Turki yang masih berkuasa. 

Nah, dengan fakta pahit demikian, apakah layak jika penjajah yang terus membantai orang-orang Palestina mendapatkan jaminan keamanan? Jawabannya pastilah tidak. 

Pihak penjajah idealnya diusir dari tanah yang mereka jajah, bukan malah mendapatkan jaminan seperti itu. Dan, Trump merupakan manusia lanjut usia dengan ambisi jahat menguasai dunia. Oleh sebab itu, Indonesia tidak boleh tunduk kepada Amerika Serikat dan Israel. Indonesia wajib mandiri dan terus memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan cara yang baik dan benar. 



Tuesday, March 17, 2026

Horeeee Selama Libur Lebaran Tak Ada MBG!

Ilustrasi: Pixabay

Konon, makan bergizi gratis (MBG) dihentikan saat libur lebaran. Kok bisa? Ini salah besar! Mengapa? Karena mustahil selama libur lebaran anak-anak tidak makan. Mereka pasti makan! Kalau tidak makan, mana mungkin bisa hidup! 

Jadi, penghentian MBG adalah pembunuhan besar-besaran. Membuat anak-anak kelaparan adalah dosa besar. Akan tetapi benarkah demikian? 

Berdasarkan fakta di lapangan, meskipun anak-anak tidak mengonsumsi menu makan bergizi gratis, mereka akan tetap hidup selama masih ada rezeki umur. Jika begitu, untuk apa ada MBG Toh, tanpa MBG pun anak-anak masih bisa melanjutkan kehidupan di dunia. 

Ini artinya, MBG tidak perlu dilanjutkan. Apalagi dengan tidak adanya MBG, anggaran negara bisa dihemat ratusan trilyun rupiah. Penghematan tentu sangatlah diperlukan selama Indonesia belum menjadi negara maju. 

Istilahnya, hemat pangkal kaya. Dan, kekayaan negara bisa untuk kesejahteraan seluruh rakyat di negara ini. Merdeka! 

Monday, March 16, 2026

Melawan, Berarti Siap Dilawan

Ilustrasi: Pixabay


Air keras yang disiramkan ke dan sampai di tubuh aktivis Kontras, Andrie Yunus, menjadi sorotan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini merupakan citra buruk dan akan lebih buruk lagi jika Pemerintah Indonesia tidak serius menyelidikinya. 

Prabowo Subianto memiliki pekerjaan baru selain persoalan MBG dan Iran. Sebagai Presiden Indonesia, dirinya wajib berhasil mengungkap siapa dalang di balik kejahatan kemanusiaan tersebut. 

Sebenarnya mudah saja cara mengungkapnya. Perhatikan saja siapa yang menjadi lawan Andrie. Dirinya bisa dikatakan melawan pihak "tertentu" sebelum dia disiram air keras. Nah, dalang penyiraman itu pastinya adalah pihak yang dia kritisi. Dari sana jelas sangat mudah menangani kasus ini. Singkatnya, aktivis Kontras itu melawan pihak "tertentu" dan dirinya dilawan oleh pihak tersebut. 

Pertanyaannya, beranikah Prabowo Subianto melakukan pengungkapan yang sangat mudah ini? 


Sunday, March 15, 2026

Samakah Kata TERTIBKAN dan BERESKAN?

 

Ilustrasi: Pixabay

Jika ada seorang kepala negara mengatakan "tertibkan" dalam konteks pembungkaman terhadap para aktivis, bisa berarti sama dengan kata "bereskan". Ini sinyal berbahaya. Mengapa? Sebab, dua kata itu berarti tindakan ganas yang brutal. Hasilnya bisa kematian atau cacat tubuh permanen (kalau bisa selamat). 

Biasanya pemimpin seperti itu kurang menggunakan akal sehat. Kecerdasan emosional dan sosialnya pun sangat rendah. Sedikit-sediikit marah, sedikit-sedikit ingin membunuh. Idealnya, orang yang demikian tidak memiliki kelayakan untuk memimpin sebuah negara. 

Akan tetapi, tentu saja melengserkannya memerlukan tetesan bahkan tumpahan darah. Itulah sebabnya, saat proses pemilihan pemimpin negara, rakyat wajib mengetahui karakter para kandidat calon presiden mereka yang akan "memimpin" pada masa mendatang. 

Memilih pemimpin bukan perkara menerima amplop serangan fajar, melainkan penentuan nasib hari esok. Ya, meskipun kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir, ini merupakan bagian dari usaha yang diwajibkan bagi setiap manusia di dunia. 

Nah, pertanyaannya, bagaimana jika pemimpin arogan yang terpilih? Maka, berhati-hatilah. Salah langkah, bukan hanya soal cacat fisik permanen, tetapi juga nyawa Anda taruhannya.