| Ilustrasi: Pixabay |
Presiden Prabowo Subianto mendapatkan pengawalan udara. Ya, pada Kamis (9/4/2026) empat F-16 Fighting Falcon dan dua KAI T-50 Golden Eagle nmengawal pesawat yang ditumpangi mantan orang nomor satu di Kopassus itu dari Lanud Halim Perdanakusuma sampai di Lanud Adisutjipto, Sleman.
Apakah ini sekadar unjuk kebolehan TNI AU? Atau memang Indonesia tidak aman? Lalu Presiden Prabowo meminta perlindungan kepada Presiden Vladimir Putin?
Ada banyak pertanyaan seputar ketidaklaziman itu. Tapi yang jelas, semuanya memakai anggaran belanja yang tidak sedikit. Idealnya, penghematan anggaran tidak sebatas di level bawah. Misalnya WFH bagi pegawai pemerintah setiap hari Jumat. Ketentuan itu seharusnya berlaku juga di level presiden dan para pejabat di bawahnya.
Mungkin niatnya bagus, namun alangkah baiknya tunggu momen yang tepat, yakni saat perekonomian Indonesia sudah sehat. Sebutlah misalnya kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia. Toh sebelumya kedua presiden tersebut sudah dua kali bertemu. Bahkan dalam dua kunjungan itu, Indonesia dan Rusia telah sepakat bekerja sama di bidang energi baru, juga terbarukan, termasuk pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Lantas untuk apa lagi bertemu? Langkah selanjutnya sebenarnya bisa dilakukan lewat sambungan telepon atau tatap muka daring secara berkelanjutan untuk memastikan terwujudnya kerja sama yang baik. Setelahnya kerja sama dilakukan di lapangan.













