Cerpen Sukardhi Wahyudi
JOKOH KITA melangkahkan kakinya, pelan sekali. Setengah diseret tapi penuh wibawa. Para hadirin menatap tokoh kita dengan menganggukkan kepala tanda rasa kagum sekaligus rasa hormat yang mendalam. Dua ratus dua puluh juta pasang mata tak berkedip dan dua ratus dun puluh juta pasang mata itu juga mengiringi sosok tubuh yang kekar serta dihiasi karisma. Ya, tokoh kita adalah tokoh di atas tokoh.
Karena di musim seperti sekarang ini banyak tokoh yang muncul secara tiba-tiba, setiap hari bahkan setiap hitungan menit selalu muncul tokoh. Sebab kalau ingin jadi tokoh sangat gampang syaratnya cukup dengan suara lantang sambil mengepalkan tangan, lalu: berteriak mengatasnamakan rakyat, mengatasnamakan hukum, mengatasnamakan hak asasi manusia, mengatasnamakan sembako, mengatasnamakan lingkungan hidup, mengatasnamakan seni dan budaya dan ribuan atas nama atas nama. Hingga negeri ini penuh dengan suara tokoh dan suara-suara itu menjadi samudera yang penuh ombak dan badai mengguncang kapal tempat berlayarnya para tokoh. Para tokoh bingung, bingung oleh stara ciptaannya sendiri. Karena para tokoh secara jujur juga menyadari berteriak tanpa berbuat adalah omong kosong. Tapi para tokoh sudah telanjur bersuara, sudah terlanjur menjadi samudera, sudah terlanjur menjadi ombak dan badai. Maka siap-siaplah sampai tujuan atau terdampar kalah.
Dulu, dulu sekali. Para tokoh ada yang tertidur pulas dengan mulut tersumbat makanan dan perut buncit kekenyangan. Ada yang terbelenggu dalam diam sambil meratapi angan-angannya, ada yang di dalam jaring mengelepar-lepar karena kaki tangannya terantai kemunafikan. Mereka hanya berbuat dalam diam. Diam yang bisu, diam yang beku. Sekarang mereka bermunculan seakan terkejut dan dibangunkan dari mimpi, dari nina bobo dan suara gaib yang sakral. Tapi sayang, mereka banyak yang berteriak namum tak bertenaga. Banyak yang taringnya dicabuti dan ompong, Mereka hanya mengekspresikan semangat tapi loyo. Karena suara bersumber dari tenaga, tenaga bersumber dari makanan dan minuman, makanan dan minuman bermula dari mulut terus keperut. Tapi perut telanjur lapar karena banyak yang bangun kesiangan. Sumber suara sudah didahului oleh kokok ayam pada pagi nyata.
Tokoh kita tidak seperti para tokoh. Tokoh kita berteriak dengan naluri bekerja dengan kemauan dan berjalan di atas rel hakiki kehidupan. Maka wajarlah kedatangannya selalu dinanti-nanti oleh makhluk yang masih mempunyai rasa, jiwa dan hati.
***
Sementara di luar gedung angin juga matahari mengamburkan sejuk dan teriknya cukup merata untuk para pengusaha, untuk para petani, untuk para pedagang, untuk para pengangguran, untuk para pengemis dan untuk seluruh yang hidup.
Tata hias dan rambu-rambu mewarnai gedung serta riuh piuh massa yang berjubel di sekelilingnya membuat suasana mengelegar meriah. Massa yang berdesakan di luar gedung sudah tak sabar lagi. Ada yang saling sikut, dorong mendorong dan teriak-teriak dengan satu tujuan: melihat tokoh kita dengan mata telanjang, dengan nyata, dengan segala anggota badan. Bahkan ada pendapat dari massa kalau bisa menjamah dan menyentuh badan tokoh kita itu pertanda bahwa ia akan mendapat anugerah dan ia bakal menjadi orang besar. Ya, tokoh kita selalu dinanti oleh seluruh tokoh, seluruh massa dan seluruh yang hidup.
Tokoh kita naik di atas podium. Hadirin disuruh panitia untuk berdiri semua. Semua hadirin dan seluruh massa yang berada di luar gedung jadi tegang dan diam beribu bahasa. Tokoh kita dengan tenang memasang kaca matanya, membetulkan dasinya, sebentar kemudian ditatapnya semua hadirin. Semua massa berdebar hatinya. Kemudian tokoh kita mengambil buku kecil di saku bajunya, membuka beberapa catatan.
“Awas, tokoh kita membuka catatan malaikatnya," kata salah seorang hadirin. Yang lainnya menganggukkan kepala tanda mengerti maksudnya. Hadirin dipersilakan duduk kembali seluruh mata terfokus ke atas podium. Tokoh kita mendehem, hadirin saling pandang. Semua diam, dan kini hening mulai menjalar ke seluruh badan dan kemudian ke seluruh hati.
"Saudara-saudaraku, tenang tenang!? Saudara-saudara kita memang harus tenang, jangan jadikan suasana ini menjadi panas dan tegang, kita harus tenang dalam suasana panas. Itu harus saudaraku," kata tokoh kita dengan nada berat. Entahlah, kenapa hadirin seperti bola lampu yang dimatikan seketika. Sepi dan sepi. Semua bungkam, hanya napas-napas mereka yang saling berimpitan, berdesakan dan sikut-sikutan. Masing-masing ingin lebih unggul.
"Terima kasih Saudara-saudaraku, ternyata kalian masih menyatu danberada dalam hatiku, dengan anganku dan seluruh jiwa ragaku. Kita memang harus bersatu. Itu harus!? Sebab aku adalah kalian, kalian adalah aku. Dan Dia adalah segalanya. Ya, bukan !?" Tokoh kita sambil menunjuk cakrawala. Dan tercenung sejenak, karena cakrawala bukan keadilan lagi melainkan bau amis dan busuk.
"Ya, di sana masih ada orang yang saling gigitan-gigitan serta adu napas. Siapa yang napasnya panjang maka dialah yang bertahan.
***
Tapi pertahanan itu hanya sementara saja, karena datang lagi segerombolan orang yang sama-sama mengadu napas mengajak adu gigitan. Satu kalah satu maju dan seterusnya. Masing-masing mengeluarkan taring sebagai alat gigitan sampai hancur berantakan badan-badan mereka. Mereka terus saling gigit. Mereka masing-masing tak memperdulikan semuanya. Yang penting gigit! Tak perduli tangannya, kakinya, kepalanya, matanya, hidungnya dan juga hatinya. Darah bercucuran dari pori-pori yang mereka miliki dan terus mengalir menciptakan luapan banjir di sana sini yang akhirnya untuk mandi bersama. "Berhubung mereka itu sebagaian daripadaku, maka aku disini: darahku mengering habis, jantungku tersumbat noda keserakahan. Badanku terasa sakit. Hatiku terbagi-bagi, untuk kalian, untuk mereka, untuk semuanya. Apakah saudara-saudaraku juga merasakan sakit itu?" kata tokoh kita dengan suara parau, lemas, dan memelas.
"Yaaa!? Kami merasakan semuanya itu," kata hadirin serentak dan tanpa di komando mereka masing-masing memegang kepalanya dan jantungnya yang meras nyilu sebab hampir lepas dari sumbernya. Seluruhnya sekarat kesakitan. Wajah tokoh kita pucat dan para hadirin lebih pucat pasi. Dia semboyongan dan para hadirin ikut semboyongan. Dengan sisa tenaga yang ada tokoh kita mencoba berdiri lagi sambil menyandarkan tubuhnya pada podium. Suasana menjadi hening, masing-masing mendekap sepinya.
-----------------------------------------------------------
Sumber tulisan: Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia
Sumber ilustrasi: Pixabay
0 comments:
Post a Comment