Nduk Win (Bekasi)
Derak Luka di Arusmu
Reranting masai
Daun-daun tercerai tangkai
Jatuh di arusmu
Kemarau siang itu
Kaukah sungai
Atau jilatan lidah api
Sepasang punai
Terbang rendah lalu mati
Kau pecah oleh dahaga
Berderak mengusung luka
Dadamu nganga dihunjam peristiwa-peristiwa
Hingga samar; keluhan atau doa
Lalu aku gegas menuju muara
Mereguk berkubik-kubik simpanannya
Juga kupanggil-panggil samudera
Yang tak pernah dimiskinkan cuaca
Kuangsurkan lalu kepadamu
Bogowonto yang mengalir sendu
Maaf jika aku memberimu ragu
Bekasi,
2015
Nduk Win
lahir di Jakarta besar di Purworejo. Saat ini tinggal di Setu Bekasi. Rutinitas
sebagai Reporter, script writer dan sebagai fotografer freelance. Saat ini
aktiv berproses sastra di Forum Sastra Bekasi.
Nila Hapsari
(Bekasi)
Sungai di Tengah Hutan
Aku ingin menjadi anak
sungai
Yang bersembunyi di
kedalaman hutan
Mengalir tenang membelai
lumut batuan
Meninabobokan daun-daun
perpisahan
Aku ingin menjadi anak
sungai
Yang bertapa di kedalaman
hutan
Tak lagi cemas akan tujuan
Menjauh dari segala ihwal
bosan
Aku ingin menjadi anak
sungai
Yang setia mendongeng di
kedalaman hutan
Menghibur sesama makhluk
Tuhan
Bisikku alunan rindu
perjumpaan
Bekasi, Maret 2015
Nila Hapsari. Alumnus Fakultas Biologi UGM
Yogyakarta yang berprofesi sebagai pengajar di Bekasi. Beberapa karyanya telah
dimuat di beberapa media cetak dan buku antologi bersama, seperti: Kepada
Bekasi (Peniti Media, 2013), Facebookisme (Ilmi Publisher, 2014),
Solo dalam
Puisi (Festival Sastra Solo, 2014), Lumbung
Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II (2014),
Sajak Puncak (TareSi Publisher, 2015), 1000 Haiku Indonesia
(Kosakata Kita, 2015), Antologi Tifa Nusantara 2 (DKKT, 2015), Kalimantan, Rinduku yang Abadi (Dewan
Kesenian Banjarbaru,
2015), dan Negeri Laut (Kosakata
Kita, 2015). Saat ini aktif bergiat di Forum Sastra Bekasi (FSB). Pos-El: ynhapsari@gmail.com
Ningrum Zahrohtul
Janah (Tanah Bumbu)
Arusmu Mengalir Sendu
Aku pun tak sanggup menghalau derumu
Yang lantang menyentak
Yang hebat mendepak
Aku pun tak sanggup menghalau derumu
Yang akur bersama bayu
Tak akur bersama batu
Aku pun tak sanggup menghalau derumu
Bilamana alirmu seakan luluh: seperti
rindu?
Yang perih nan pedihnya melirih sendu,
lalu mencekik sukma hingga membeku?
Derumu adalah deru alam
Alirmu adalah alir alam
Mengalirmu adalah kebebasan
Siapa pun harus enggan mengelak
Sebab alirmu mengarus di jalur setapak
Yang milikmu,
Tanpa kauganggu milik mereka
Setitik pun tak kaukotori mereka
Namun mereka, tak setitik pun gundah
menggulingkan gunung kotor untuk menyiksamu?
Kau marah tanpa berkutik
Sebab kau malang, tak pernah dikutik
Tanah
Bumbu, 10 Maret 2015
Ningrum
Zahrohtul Janah. Bertempat tinggal di Kabupaten Tanah
Bumbu dan sangat mencintai tanah tinggalnya. Anak yang biasa dipanggil Ningrum
ini bernama pena Ningrum Shinichi. Lahir pada 29 Januari 2000 di Kediri.
Sekarang, ia telah menginjak bangku SMA tepatnya di SMAN 1 Simpang Empat dan
bertempat di kelas X-F.
Ningrum Shinichi hobi menulis puisi
dan cerpen. Cerpennya yang berjudul Kepakan
Sayap yang Hilang dibukukan dalam kumpulan cerpen bertajuk Mappanretasi di
Radio dalam Lingkar Lilin Kecil. Cerpennya yang berjudul Alasan Sebenarnya turut juga menghiasi kumpulan cerpen bertajuk
Sepucuk Surat dari Temanku. Ia juga salah satu kontributor pada karya tulis
yang berupa kumpulan cerita masa lalu, yang lebih tepatnya pada buku Diary Masa Lalu part. 1 pada awal tahun 2016. Empat buah puisinya juga turut
mengisi antologi puisi bersama Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu, Mengurai Ombak, Menggapai Riak di tahun yang sama. Kontak yang bisa dihubungi: ningrumzj2901@gmail.com,
facebook: Ningrum Shinichi. Instagram: @ningrumshinichi_
Nida Anisatus
Sholihah (Malang)
Mata Air Sungai Kesetiaan
dalam peradaban kalbuku
kutemukan
mata air
air sungai kesetiaanmu
jernihnya
menaklukkan angkuh
mengukir sejarah mahabbah
antara
kau-aku
dasawarsa
serasa
detik-detik ria selaksa
yang mengalun segala rimba rasa
di hilir pengakuan
kupasrahkan
arus cinta
suci
di pangkumu
tanda mahabbah
dua insan memeluk setia
Nida Anisatus Sholihah
lahir di Malang, 18 Agustus 1986. Alumnus Jurusan Sastra Jerman, Universitas
Negeri Malang (UM) lulus tahun 2008. Puisi-puisinya tersiar di Malang Post dan Radar Malang. Karya-karya jurnalistiknya terbit di Harian Kompas, Harian Surya dan Majalah Kampus UM.
Tahun 2015 menjadi Juri lomba Baca Puisi se-Jawa—Bali dalam
acara Deutsche Tage di Malang. Saat
ini mendampingi mahasiswa UM dalam merakit karya jurnalistik dan karya sastra
di Majalah Komunikasi UM. Penulis dapat disapa di 085646503507 atau Pos-El nida_anisa@yahoo.co.id.
Saat ini ia bermukim di Jalan Tendean, Nomor 28A RT 4 RW 11, Turen, Malang,
Jawa Timur
Novy Noorhayati
Syahfida (Tangerang)
Cisadane
mencintai
engkau
pada
musim yang tak mengenal penghujan dan kemarau
tentang
pohon salak yang merimbun
tentang gemerisik daun bambu yang
mengalun
tentang hulu dari selatan yang menawan
di
remang cisadane¹, seutas kenangan
berjatuhan
berderai
lepas dari deras arus ingatan
melambung
pada gemerlap peh cun² di tepi sungai
pada
lentur tarian barongsai
dan
gadis-gadis bergincu merah yang aduhai
bak
lampion menari dengan gemulai
telah
tercatat semua gemuruh
hingga
tiba saatnya airmu meluruh; keruh
Tangerang
¹Cisadane adalah nama sungai terpanjang di Tangerang, mengalir dari
selatan dan bermuara di Laut Jawa.
²Peh Cun adalah festival mendayung perahu naga yang dirayakan
setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Pada saat ini
dipercaya bahwa matahari, bulan dan bumi berada pada satu garis orbit.
Novy Noorhayati Syahfida
lahir di Jakarta pada tanggal 12 November. Alumni Fakultas Ekonomi dengan
Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis
puisi sejak usia 11 tahun. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di beberapa
media cetak seperti Pikiran Rakyat, Suara
Pembaruan, Sulbar Pos, Lampung Post, Haluan (Padang), Koran Madura, Harian
Cakrawala (Makassar), Solopos, Posmetro Jambi, Fajar Sumatra, Tanjungpinang
Pos, Majalah Islam Annida, Jurnal Puisi, Buletin "Raja Kadal",
Majalah Sastra "Aksara", Buletin
“Jejak”, Majalah Budaya “Sagang” dan Buletin
“Mantra”.
Puisi-puisinya juga terangkum dalam lebih dari 70 buku
antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita,
2012). Tiga buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung,
2012), Kuukir Senja dari Balik
Jendela (Oase Qalbu, 2013) dan Labirin
(Metabook, 2015) telah terbit. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan
kontraktor di Jakarta.
Oktavia Nurul Hidayah
(Ponorogo)
Surat
Kaleng
Ke mana sepucuk kasihku?
Kubilang aku lelah
Yang kutunggu hanya sampah
Kubertanya siapa dan mengapa?
Siapa yang kutanya?
Sungai itu tak bersuara
Mengalir pun bahkan tersedak
Kian waktu kian nestapa
Kasihku tak lagi kujumpa
Aku menunggu menahan gulana
Ke mana sungai membawanya?
Yang datang hanya rongsokan
Terseret dari hulu ke hilir
Sungaiku sedang meronta
Oktavia
Nurul Hidayah, lahir di Ponorogo pada tanggal 6 oktober
1998. Sekarang tengah menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren di
Ponorogo, Jawa Timur. Motivasi terbesar dalam hal kepenulisannya adalah
kehidupan pribadinya. Menulis berarti menggoreskan sejarah hidup.
Pakwo
Andra (Jambi)
Naga Selatan
Laksana urat nadi swarnnabhūmi
Dalam aliran sejarah
Saksi kejayaan Kuntala, Melayu,
Dharmasraya, dan Srivijaya
Begitu banyak cerita dari hulu yang di
hanyutkan
Namamu agung, bagai naga dari selatan
Hingga kini
Arusmu telah mati
Di racuni kegeoisan dan ambisi
Lalu-lalang harapan dan keserakahan
dalam PETI
Terlalu banyak dosa anakmu yang kau
tanggung
Mencari harapan lain
Kehidupan
Batang Hari
Dalam air mata para ikan
Rindukan kayuhan biduk membentang
pukat dan pucuk jala
Di antara riak sunyi
Tepian sauh tempat riwayat masa lalu
kami terpautkan
Tentangmu yang terlupakan
Lalu kenapa
Budak-budak telanjang , dalam
Arusmu yang seperti jamu
Nama lengkapnya Joni Juliyandra, lahir siulak 3 maret 1987. Mulai bergiat di dunia Seni dan
sastra ketika bergabung ke sanggar KUBU BUNGO dan aktif juga pada kegiatan KOMPI (Komunitas
Musikalisasi Puisi Indonesia). Seniman yang satu ini gemar mempelajari dan
menuturkan seni tutur melayu jambi seperti, krinok, kuau, mantau, dan senandung
jolo yang dijadikan sebagai inspirasi dalam berkarya puisi. Beberapa
sajak-sajaknya sudah pernah tergabung dalam antologi PENDERAS RISAU (2016), dan beberapa harian pagi di Kabupaten Bungo,
Jambi. Saat ini menetap di Muara Bungo, Jambi.
Polanco Surya Achri (Yogyakarta)
Sungai Puisi
sejak dahulu
sungai selalu menjadi
nadi kehidupan
menjadi jantung peradaban
bahkan induk kebudayaan
begitu juga sungai puisi
aliran sungainya yang deras
jernih lagi menyegarkan
selalu bisa menyejukan
alam yang kehausan
tapi juga
selalu menyimpan misteri
dalam setiap aliranya
sungai puisi mengalir
berkelak-kelok layaknya
seorang penari yang beraksi
lekuk-lekuk tubuhnya
layaknya gadis muda
yang bergelora
hingga membuat yang memandangnya
pasti jatuh cinta...
namun...
sungai itu kini terdesak zaman
kehilangan esensinya dan maknanya
bahkan wujudnya
sungai puisi yang dulu
jernih kini keruh
karena ego-ego manusia
dan limbah-limbah
materialis dan kapitalis
sungai puisi yang dulu
deras kini tergenang dan tersumbat
akibat sampah-sampah zaman
yang menumpuk
sungai puisi yang dulu
lebar dan luas
kini sempit dan terdesak
bahkan mungkin akan hilang
tertutupi beton-beton moderenitas
dan besi-besi keserakahan
sungai puisi yang dulu
dalam dan tajam
kini dangkal dan tumpul
tak bermakna dan berasa
sungai puisi yang dulu
menyimpan buaya yang
mampu memangsa tirani dan rezim
serta menyimpan ular yang
mencekik para penguasa dan otoriter
kini, hanya menyimpan sampah bualan
kosong
dahulu sungai puisi
selalu membasahi negeri ini
mengairi sawah-sawah pikiran
kolam-kolam kejiwaan
dan membasahi hutan kesadaran
tapi kini,
sungai puisi hanya menjadi kambing
hitam
atas bencana banjir yang menimpa
layaknya air yang ingin mengalir
begitu juga sungai ini
tapi pikir
siapa yang membendungnya
dan mengotorinya?
jangan salahkan para penyair
yang terus menghujani sungai puisi
dengan isi hati dan pikiran mereka
karena bagi mereka
sungai puisi itu suci dan sakral
dan akan terus begitu
dan jangan salahkan (pula)
para rakyat kecil yang menangis
hingga sungai puisi
meluap, menjebol kebisuan dan ketulian
karena tangis mereka
biarkan sungai puisi banjir
agar membanjiri negeri ini
dengan puisi
biarkan seluruh orang
terkena penyakit
penyakit mau membaca dan menulis
juga mendengar dan bicara
biarkan banjir puisi ini
kembali mengeluarkan buaya dan ular
yang mampu memakan kebejatan
dan kebengisan negeri ini
seperti dulu
biarkan banjir ini
menyapu kotoran negeri ini
agar kembali suci
Oh Tuhan
izinkan kami kembali
menikmati segarnya air
sungai puisi-Mu
karena kami begitu haus, Tuhan
agar ruh dan jiwa kami
kembali bersih dan murni
kuharap aku bisa
mandi dan minum dengan
air sungai puisi
agar sungai puisi mengalir
dalam tubuh ku
dan akan kusirami negeri ini
dengan air sungai puisi
agar bunga kedamaian
kembali bersemi
Polanco
Surya Achri lahir di Yogyakarta 17 Juli 1998. Berdomisili di Gendeng GK
IV/408 Yogyakarta. Seorang penikmat sastra yang berharap mampu menghasilkan
karya-karya sastra yang baik. Seorang pelajar yang terus belajar. Nomor ponsel:
085228830084 dan Pos-El: Kancilanco@gmail.com.
Rahmat Ali
(Jakarta)
Balada Hitam di Kompleks Pinggiran
Sungai
I
Tersiar
sudah wilayah itu sebagai asli miliknya
Berbatas
sungai mengalir ke muara
Kokoh
ditembok para preman jago dan jawara
Sampai
di luar-luar sana orang tahu sekali
walau hanya bisik suara
Penjudi
pemabuk dan lelaki iseng berlomba datang
Yakin
di situ bakal senang di depan pintu dielu-elusi molek bergincu
Bermanja
dengan busana depan setengah buka
Mendekat
sambil tawari mau minum apa
Yang
mana suka untuk hapus dahaga
Teh
es manis jus jeruk kopi susu atau daku
Pasti
berbekal rindu seribu
Yuk,
yuk, Bang, yuk masuk
Sudah
kutunggu-tunggu sehari suntuk
II
Begitu
bisnis manis
Yang
dilakoni Bos penguasa pinggiran sungai
Parlente
dengan bercincin berlian di jari manis nan tak ternilai
Sebenarnya
wajah angker namun menutupinya bak juragan bijaksana
Profesinya
agen bir
Sudah
belasan tahun buka kafe
Masukan
lainnya setoran dari para mucikari rame-rame
Tak
lama berselang karena bangunan dipermewah penghasilan makin limpah
Sudah
tugas harian preman jago dan jawara
membentengi
Saat
adzan dari mesjid mengumandang tak seorang pun perduli
Malah
cepat-cepat ke kamar menuruti syahwati
Tamu-tamu
lain tetap asyik merubung si molek bergincu
Lanjutkan
berkaraoke sambil colek penghibur sampai dini
III
Tak
ada yang gubris
Kalau
nurani sudah di puncak krisis
Diyakini
mucikari dan si molek-molek makin eksis
Tamu-tamu
berdatang
Depan
pintu selalu dielu-elu
Bermanja
dengan busana depan setengah buka
Mendekat
sambil tawari mau minum apa
Seterusnya
sampai ke kamar berdua
Apakah
akan begitu seterusnya?
Tidak
sangka beberapa hari kemudian
Penggerebekan
disambung penggusuran membabi-buta
Mereka
kalang kabut langsung angkut-angkut barang pulang desa!
Jakarta, 29 Februari 2016
Rahmat Ali,
kelahiran 29 Juni
1939 di Malang.
Lulusan Jurusan Bahasa &
Sastra Indonesia FKIP
UNAIR Malang tahun 1964. Perwira
Marinir TNI AL. Menulis puisi, cerpen, novel sejak tahun 1958 hingga sekarang. Anak empat, cucu tujuh, pensiunan
Pemda DKI Jakarta sejak
1995. Tinggal di Jl. Ampera I no. 32, kel. Ragunan, kec. Pasar Minggu,
Jakarta 12550. Email alirahmatku@yahoo.com. Tlp. 0217802584.
Rahmi Airin (Jakarta)
Caldera
yang Terdera
Entitas yang meragukanku adalah
sungai,
Berikut cinta di dalamnya berikut
nasab di kandungannya
Sungai mengalirkan mazhab dan dogma
yang tak pernah berhenti mengarus
Menderas hingga muara yang kelaparan
Maka jadikanlah harapan adalah cinta
ibu
Maka jauhkanlah air yang menganak dari
kepergian sapi-sapi betina yang kehausan
Maka hindarkanlah kejutan dimana
berawan dan hujan deras adalah alasan bagi sungai menampung air mata.
Air mata yang menganak
air mata yang meraup aspal bagai
linangan darah para suhada.
Terimalah ini sebagai takdir yang tak
pernah bisa putus berdoa.
Sungai menyumpahi selaksa damai,
Sungai menyumpal beragam diksi yang
kabur maknanya.
Sungai adalah aku,
Yang hanyut akan kesepian dan keriuhan
malam.
Rahmi Airin,
Ibu dari dua orang anak kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, yang kini menetap di
Ibu Kota. Hobi menyelam, naik gunung, dan nonton film. Beberapa puisinya pernah
mampir di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Republika,
Kompas, dan beberapa media lainnya.
Suka juga menulis cerpen dan sudah memiliki sebuah novel yang beredar di
seluruh Indonesia. Sempat bekerja sebagai TIM Kreatif dan Penulis Skenario di
Citra Sinema, PH milik Deddy Mizwar dan kemudian memutuskan keluar karna ingin
fokus mengurus keluarga. Saat ini sedang dalam proses merampungkan novel kedua
sembari sesekali menulis puisi atau cerpen dan menjadi koki andalan di
keluarga. No ponsel: 081289822642. Fb: Amoy AiRior. Twitter: ami_airin. Pos-El:
ami.airin@gmail.com.
Laman: www.rahmi-isriana.blogspot.com. Alamat: Jaan
Pluit Dalam III/ No : 2. RT/RW 009/008. Kel/Kec Penjaringan. Jakarta Utara,
14440.
0 comments:
Post a Comment